Benda kecil berbentuk kubus warna-warni ini sudah saya kenal sejak duduk di bangku sekolah dasar, dan saya hanya kenal tapi tak pernah memiliki dan sampai sekarang belum pernah berhasil menyusun warna menjadi seragam baik di satu sisi apalagi sampai enak sisi.

Sampai lahir Keis dan saat berusia 3 tahun saya memberi mas Keis mainan Rubik Cube ini, meskipun dari beberapa artikel masih menjadi perdebatan apakah permainan rubik bermanfaat akan melatih otak kiri atau otak kanan anak, antara kreatifitas atau daya analitik anak, yang pasti saya beli karena bentuk yang menarik, penuh warna-warni dan sudah saya idamkan sejak kecil.

Alhasil seperti prediksi awal, mas Keis waktu ini hanya memutar-mutar mainan rubik miliknya, dan pada satu waktu rubik dibanting sehingga pecah berkeping-keping, saat itu mas Keis memang masih fase belajar aksi reaksi.

Belum lama ini saat hasil ulangan mas Keis bagus, hadiah yang dipilih adalah mainan rubik lagi, pada usia 8 tahun asumsi saya mas Keis pasti bisa menyelesaikan permainan rubik tak seperti di usia 3 tahun.

Gundam Master Grade – Skala 1:100

Saat pertama mas Keis mengacak warna rubik nya, lalu mas Keis kesulitan mengembalikan susunan sesuai kondisi awal “Abi… Aku bingung nih, gimana caranya ya…?” Keis berharap saya bisa memberikan solusi dan mengajari untuk menyusun ulang rubik nya, dan saya jawab “Wadduh mas.. Untuk mainan yang satu ini, abi ga bisa bantu mas, abi juga belum pernah bisa mainan rubik” dan Keis hanya tersenyum, hal ini mirip seperti ketika mas Keis saya tawarkan mainan Gundam mulai dari High Grade (HG) sampai yang Master Grade (MG) “Mas.. abi mau beliin kamu gundam yang agak besar, tapi syaratnya kalo lagi nyusun jangan minta tolong abi ya… karena abi juga ga bisa nyusun gundam, pasti lebih jago mas Keis dari Abi” yang hasilnya untuk gundam HG mas Keis bisa menyelesaikan kurang dari 12 jam, sedangkan untuk gundam MG skala 1:100 mas Keis membutuhkan waktu sekitar 18 jam.

Mas Keis dan Rubik Terurai

Di satu waktu, saya melihat mas Keis sedang memegang rubik miliknya dan ternyata dalam kondisi terurai, kotak-kotak penyusun rubik dalam kondisi terpisah, sempat kaget dan teringat mas Keis di usia 3 tahun “Mas.. Koq rubik nya rusak..?” sambil asik utak-atik bagian per bagian rubiknya, mas Keis dengan santai menjawab “Ga rusak koq bi… ini aku lagi susun lagi” dan akhirnya saya bisa merasa lega dan coba memahani apa yang ada di pikiran mas Keis.

Mas Keis Menyusun Bagian-bagian Rubik

Saya tak memaksakan mas Keis memainkan rubik seperti orang-orang pada umumnya, saya berfikir mungkin mas Keis memang lebih kuat pada daya analitik dan berfikir sistematis sehingga tak perlu berfikir dengan cara orang lain berfikir, mas Keis bermain rubik dengan cara yang menurutnya paling efektif dan efisien, tentu dengan perhitungan dan analisa yang terkontrol. Bahkankarena mas Keis sudah bisa melakukan bongkar pasang rubiknya, ketika rubik miliknya terasa sulit di putar dan agak seret, mas Keis bisa langsung memutuskan untuk memberikan pelumas pada poros putar rubik miliknya, sehingga bisa berputar dengan mudah.

Mas Keis Memasang Bagian Terakhir Rubik

Mas Keis dengan taktis dan seorah sudah ada rangkaian prosedur dalam otaknya, menyusun bagian demi bagian rubik yang sudah terurai, dengan serius dan pasti kurang dari 2 menit mas Keis sudah dapat meletakan bagian rubik terakhir hingga seluruh sususan warna kembali seperti semula.

 

Seperti biasa, mas Keis selalu berfikir agak berbeda, terkadang mas Keis menyusun rubik tidak seperti biasanya, terkadang membuat pola warna sesuai dengan imajinasi dan keinginannya sendiri, dan akhirnya jika merasa bosan mas Keis akan memutar kembali rubiknya dan akhirnya membongkarnya dan menyusunnya kembali. Rubik di tangan mas Keis lebih mirip puzzle yang berbentuk kubus. (Dhy)

Cara Keis Bermain Rubik Cube

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *