Kondisi ekonomi makro Indonesia di akhir semester 2 tahun 2015 sangat mengkhawatirkan, nilai Rupiah terhadap Dollar Amerika merosot tajam, beberapa pengamat ekonomi mengatakan Indonesia sudah dalam kondisi Siaga 1, kabarnya hal ini sebagai imbas dari melemahnya ekonomi Yunani dan akibat devaluasi mata uang Yuan.

image

Kondisi ini tak hanya menggoyang perekonomian di kalangan industri manufaktur, otomotif dan properti, namun ternyata berimbas pula pada penurunan omset penjualan kue pukis di Bekasi.

Tapi saya tidak akan membahas analisa PEST(EL) atau  Porter’s Value Chain dalam merencanakan kelangsungan bisnis kue pukis, namun akan dibahas bagaimana langkah strategis yang diambil oleh seorang pemuda mungil berusia tak lebih dari 30 tahun, ia adalah Didik Darmadi yang memiliki nama panggung Didik Bennington dan sebut saja mas Bening.

Sejak awal semester 2 tahun 2015 dampak krisis ekonomi Yunani mulai menghantam omset penjualan kue pukis mas Bening, omset penjualannya merosot tajam, turun hingga lebih dari 50% dibanding penjualan di semester 1.

Uniknya mas Bening tak panik dan tak khawatir hadapi tekanan kondisi ekonomi, tanpa keraguan langkah strategis yang diambil mas Bening adalah memutuskan segera melangsungkan pernikahan, langkah ini mas Bening ambil karena ia yakini menikah akan membuka pintu rizki dan mendatangkan barokah.

Berselang tak lebih dari satu bulan sejak dihantam krisis ekonomi mas Bening memulai proses pernikaha, langkah pertama adalah mas Bening bertemu dengan pujaan hatinya yang berdomisili di wilayah Depok, pertemuan ini merupakan proses awal sebelum melanjutkan pada proses lamaran.

Mas Bening nampak tegang dan grogi, ia pun langsung memperkenalkan diri kepada sang pujaan hati, tak lupa ia menyampaikan kepada keluarga calon istrinya bahwa dalam keseharian mas Bening adalah seorang pengusaha kue pukis dengan penghasilan sebulan di masa krisis ini tak lebih dari sepertiga UMK Kota Bekasi.

Calon istri mas Bening sebut saja Nadiyya yang terpaut usia 3 tahun lebih muda darinya menjawab : “Bagi saya tidak penting berapa penghasilan calon suami saya, yang penting adalah itikad dan tekad untuk tetap berusaha mencari rizki dari Illahi, dengan itu saya yakin Insya ALLOH akan mendapatkan rizki yang berkah untuk keluarga meskipun sedikit”.

Salah satu kerabat mba Nadiyya pun menimpali ” iya saya malah seneng sama laki-laki yang dagang, walaupun kecil, tapi lama-lama pasti berkembang”.

Wajah mas Bening nampak tegang dan grogi, namun kali ini diiringi dengan senyum tipis yang manis dihadapan pujaan hati.

Tak lama proses perkenalan, usaha pukis mas Bening mengalami collapse, mas Bening memutuskan untuk gulung tikar dari usaha pukis. Namun tak hanya diam dalam hening, segera ia banting stir ke bisnis penjualan buff dan menjual makanan frozen keliling, juga sempat bekerja di sebuah kedai kopi menjadi seorang koki, sampai akhirnya beliau resign di awal Desember.

Meski demikian mas Bening tak pernah mengurungkan niatnya untuk menikah, hingga proses lamaran antar keluarga pun menyepakati waktu pernikahan akan dilangsungkan pada awal Januari tahun 2016 bersamaan dengan diberlakukannya perekonomian bebas ASEAN yang dikenal dengan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

image

” Insya ALLOH setelah menikah, saya akan jualan kue pukis lagi di Depok, karena keahlian saya di sini, saya ahli membuat dan menjual kue pukis”. (Dhy)

Hadapi Krisis Tukang Pukis Putuskan Segera Menikah

Post navigation


One thought on “Hadapi Krisis Tukang Pukis Putuskan Segera Menikah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *