Bi… Besok aku mau ke sini lagi, mau pesen udang bakar madu, enak bi, tadi kurang” ucap mas Keis ga lama setelah keluar dari gerbang Gubug Mang Engking Bekasi, masih kebayang udang di tusuk sate yang madunya melted kebakar, gurih, manis dan pedas, nom…nom…nom.

Kali ketiga datang ke rumah makan ini, dan ketiga kalinya pula masuk waiting list menunggu giliran masuk ke saung lesehan tempat makan, tapi anehnya nunggu di Gubung Mang Engking ini ga terasa membusankan, tau-tau udah dipanggil suruh masuk ke gubug pesanan, lihat jam ternyata kita sudah nunggu satu jam lebih, konsep yang menarik dari rumah makan satu ini.

Selain konsep menghilangkan kebosanan menunggu ada juga aturan yang juga menarik, masing-masing gubug hanya diberi waktu 2 jam terhitung makanan datang, dan jika lewat dari itu akan kena denda 10% dari total tagihan makanan. Awalnya saya sempat berfikir ini adalah jebakan, tapi seperempat jam sebelum waktu habis, akan ada teteh berbusana tradisional datang mengingatkan kalo waktunya sudah akan berakhir, jadi aman ini bukan jebakan, tapi ini adalah cara agar para pengunjung selanjutnya yang sudah masuk waiting list tak menunggu lebih dari 2 jam.

Bahaya emang, harus hati-hati sama rumah makan satu ini, kalo ga bisa nahan diri bisa amsyong cash flow kita, makanannya bikin ketagihan, suasananya bikin anak-anak nyaman, harganya worth it lah, yaa dibilang mahal enggak, dibilang murah apalagi, perkara murah memang subjektif, tapi kalo mahal sepertinya absolut.

Kalo saya analisa lagi, apa sih yang bikin anak-anak suka banget makan di sini, kalo diinget-inget, kalo dateng ke rumah makan ini, mas Keis dan Ziya itu langsung lari sambil bilang “Abi, aku ke kolam ikan terapi yaa…” melesat tanpa menunggu konfirmasi dari abinya.

Kolam ikan terapi jadi konsep menunggu nyaman yang simple tapi keren banget dari Gubug Mang Engking, di tengah era digital, anak biasa menunggu dengan menghadap ke layar ponsel, tapi di sini perhatian anak di alihkan ke ikan-ikan kecil yang menggigit-gigit lembut kaki yang penuh dengan kulit mati, implementasi praktis dari ilmu queuing yang pernah saya pelajari, seni memecah antrian, bisa dengan uler-uler melingker gaya khas Gelora Bung Karno saat antri masuk dan juga Dufan, atau dengan membuat proses antrian menjadi proses yang menyenangkan, dan Gubung Mang Engking memilih ikan terapi mungil sebagai solusi.

Antrian tak hanya di situ saja, selesai dipanggil untuk masuk ke gubug lesehan, pelanggan akan diminta untuk mengantri a.k.a menunggu pesanan makanan datang, dan hebatnya lagi, ini terasa sangat sebentar, karena perhatian anak dan semua keluarga semua terfokus memberi makan ikan koi dan ikan mas yang ada di danau di bawah saung, makanan ikan pun tak gratis, dengan harga lima ribu rupiah kita bisa membawa sebungkus plastik ukuran 250 gram berisi pelet makanan ikan yang disediakan di meja reservasi.

Hal terakhir yang memang harus ekstra hati-hati jangan pernah hilang fokus pada anak-anak karena antara saung dengan danau penuh ikan koi itu tanpa batas, dan lagi-lagi inilah yang mengalihkan perhatian orangtua, bukan fokus pada menunggu makanan datang, tapi fokus menjaga dan asyik memberi makanan ikan bersama anak-anak di pinggir saung. (Dhy)

Hati-hati Makan di Gubug Mang Engking

Post navigation


Leave a Reply