Jalan raya kalimalang, jalan yang selalu saya lalui pergi pulang menuju tempat kerja di kawasan Industri MM2100, satu spot yang paling saya sukai ketika lewat jalan ini adalah lokasi dimana ada beberapa pohon palem yang tinggi menjulang, dengan view belakang seperti padang rumput, dan benar keindahan ini ada di Kalimalang Bekasi.

Suka mikir… ni pohon, siapa yang nanem ya…? Bagus banget, kalo mata memandang datar lurus ke depan agak naik dikit, sambil ngebayangin piknik gelar tiker buka bekel sama anak dan istri,indah banget dah.

Tapi, kalo pandangan mata turun dikit, rusak dah semua imajinasi, karena tepat di bawah pohon palem ngumpul tumpukan sampah yang buanyaaak banget, sampe kepikiran ini mah ga mungkin perorangan yang buang sampah.

Sudah lebih dari sepekan spot favorit saya ini tertutup kabut asap, asap yang berasal pembakaran sampah di bawah pohon palem, mata pedes, idung bau, kalo ada Ziya pasti langsung tutup hidung sambil ngomong “Huekkkk…. Bau asepp….“.

Peringatan Pipa Gas Bertekanan Tinggi

Penasaran berhenti di dekat lokasi pembakaran sampah, ga sengaja melihat ada plang peringatan, dan ternyata di sepanjang pinggir jalan tempat tumpukan sampah yang dibakar, di bawahnya adalah jalur pipa gas bertekanan tinggi, alamakjang…. Bisa meledug ni awak….

Tapi kalo diperhatiin lagi, peringatan di plang itu “Dilarang menggali/mendirikan bangunan di jalur ini” hmmmm…. Buang sampah, nimbun sampah, bakar sampah, berarti tidak melanggar peringatan. Kabooor dah, daripada mledug.

Prediksi saya asap pembakaran sampah ini paling hanya akan berlangsung satu atau dua hari ke depan, ditambah beberapa hari terakhir Bekasi sudah mulai disejukan dengan gemericik hujan manja. Namun ternyata perkiraan saya salah, kabut asap pembakaran sampah di tempat ini masih terus berlangsung, di sore hari kabut asap ini sering menutupi jarak pandang pengendara baik pengendara motor maupun mobil, hal ini menyebabkan kemacetan karena kendaraan mengurangi kecepatan laju kendaraannya. Berharap dan berharap semoga pemerintah setempat segera menyelesaikan masalah ini.

Imajinasi terus berlanjut, ngebayangin kalo pinggir Kalimalang dikelola dengan baik, pulang kerja bisa mampir di bawah pohon palem, ada kedai kopi, menikmati single origin dengan cemilan singkong goreng, indah bener dah Kalimalang.

Andai Kalimalang bisa seindah Clarke Quay di Singapore, atau Chao Phraya di Thailand, bakal rame dah orang yang gowes ke kantor lewat Kalimalang. Dan akhirnya terbangun kelar dah mimpinya. (Dhy)

Kalimalang Berkabut, Pembakaran Sampah di Atas Pipa Gas Berlanjut

Post navigation