Pecinta kopi di Indonesia khususnya di Bekasi kini memiliki komunitas yang semakin berkembang, baik komunitas secara formal maupun informal, baik secara online maupun di dunia nyata, baik yang sengaja berburu atau yang menerima rezeki oleh-oleh kopi nusantara dari kerabat sesama pecinta kopi yang baru bertandang ke daerah-daerah penghasil kopi.

Pecinta kopi tak ingin menikmati kopi nusantara sendiri, hampir semua pecinta kopi akan saling berbagi jika memiliki varian kopi yang baru saja diperoleh dari berbagai sumber dan berbagai cara, untuk menjadi bahan diskusi serta kalibrasi cita rasa dan kepresisian lidah masing-masing, meskipun bersifat sangat subjektif dan bergantung pada pengalaman rasa yang pernah di nikmati sebelumnya.

Dan alhamdulillah pekan ini saya mendapat 2 varian biji kopi panggang dari dua daerah yang berbeda di Indonesia yaitu Bali dan Temanggung, dan keduanya dari varian arabika. Akhir pekan lalu saya baru saja menikmati kopi Bali Kintamani yang di proses secara natural, saya menikmati rasa yang luar biasa di kedai kopi San9a yang terletak di Galaxy Bekasi. Barista nya menghampiri saya dan bertanya “Gimana mas apa yang dirasakan ?” dan saya cuma bisa jawab “enak banget mas…” barista seperti tidak puas dan kembali bertanya “ada rasa buah apa yang dirasakan mas ?” nah saya malah jawab “kaya ada rasa daun mas, seger” dan mas baristanya pun diam dan bingung sambil bilang “koq daun mas ? biasanya sih yang terasa itu ada rasa buah, dan rasa itu akan hadir tergantung pada memori rasa yang pernah mas rasakan” dan saya yang malah bingung sambil lanjut minum kopinya.

Sehingga dari dua pilihan biji kopi panggang yang dikasih oleh Kang Irfan, saya memilih untuk menggiling dan menikmati biji kopi Temanggung terlebih dahulu. Dan ternyata kang Irfan juga mendaparkan kopi ini merupakan oleh-oleh dari temannya yang baru pulang dari Temanggung. “Ini kopi curah mas, beli kiloan gitu, bungkusnya aja plastik kresek gitu, kemarin dikasih teman yang dari Temanggung, liat kopi inget saya katanya” demikian cerita kang Irfan tentang biji kopi ini.

Biji Kopi Temanggung - Tradisional
Biji Kopi Temanggung – Tradisional

Kesan pertama ketika melihat biji kopi ini saya kagum, untuk biji kopi yang di panggang secara tradisional, biji kopi ini terlihat sangat cantik, secara visual terlihat masih dalam grade medium roast tidak seperti kopi-kopi roasting tradisional yang pernah saya lihat sebelumnya, yang cenderung akan heavy dark, sehingga terlihat hitam dan ada karbon yang terkupas. Namun cantiknya biji kopi Temanggung yang saya terima ini masih terlihat agak kecoklatan meskipun agak gelap, dan yang bikin makin seksi di permukaan kopinya masih terlihat mengikilap seperti ada lapisan minyak yang keluar karena proses pemanggangan dalam grade medium.

Saat menggiling mengunakan Porlex hand grinder terasa sangat lembut, tidak liat/alot/ulet namun tidak terasa getas, sepertinya kadar kandungan airnya juga sangat sempurna, proses pengeringan yang sangat baik, tak terlalu kering, namun juga tak terlalu basar, luar biasa untuk kopi yang diproses secara tradisional dan dijual di pasar tradisional dengan kemasan kantong kresek tanpa brand layaknya kopi modern. Aroma saat selesai menggiling kopi ini dengan skala 5 klik, mengeluarkan aroma yang cukup tajam, tak terlalu harum, namun memiliki aroma yang unik.

Saya memilih proses penyeduhan dengan metode tubruk, dan saya nekat mencoba pada temperatur hampir 100 derajat celsius, sesaat setelah mendidih tanpa menunggu beberapa menit, langsung daya tuang ke bubuk kopi Temanggung ini, saya diamkan 4 menit, tak diaduk, lalu bersihkan ampas kopi yang mengambang, cukup banyak ampas kopi yang harus dibersihkan di permukaan kopi yag saya seduh ini. Aroma pun tak sangat harum, memiliki aroma yang mirip dengan aroma yang saya dapat ketika selesai menggiling kopi ini.

Dan ketika saya mencicipi kopi ini, awalnya terasa datar, lalu lanjut lagi, dan saya baru ngeh, hampir tak didapat rasa pahit di lidah saya, kesan ringan dari awal sampai akhir, menjadikan kopi ini memiliki cita rasa yang sangat stabil dari awal sampai akhir. Kopi ini sangat direkomendasikan untuk saat-saat santai dan menjadi pilihan ketika ngopi tanpa ditemani cemilan, karena jika dengan cemilan, dengan rasa yang kopi yang lembut dan stabil ini khawatir akan mengganggu cita rasa kopi tradisional ini.

Saya sangat takjub dengan hasil karya petani kopi Temanggung, yang mampu menciptakan biji kopi panggang yang sangat cantik dan seksi meskipun dengan proses yang tradisional, semoga petani kopi Indoensia panjang umur dan kita mau berkontribusi untuk usia petani kopi Indonesia dengan merasa bangga memilih kopi Nusantara bukan kopi dari luar Indonesia. (Dhy)

Kestabilan Cita Rasa Kopi Arabika Temanggung

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *