Mas Keis beranjak usia, sampai kini akan naik kelas 3, sebelum Ramadhan Keis sempat beberapa kali nyeletuk minta sunat “Abi aku mau sunat ya tahun ini“, awalnya saya hanya mengira ini hanya celetukan mas Keis saja namun ternyata hal ini terucap beberapa kali dan hingga pada bulan Sya’ban sebelum puasa Ramadhan Keis kembali mengucapkan hal yang sama.

Akhirnya sepekan sebelum lebaran saya memutuskan untuk mengikuti kemauan dan semangat mas Keis untuk menjalankan sunah agama ini yaitu khitan, dari hasil mempelajari dan mendengar cerita tentang beberapa metode khitan, akhirnya saya dan istri memutuskan untuk menggunakan metode Smart Klamp yang dianggap metode paling kekinian, selain itu dari hasil beberapa review di internet saya tidak mendapati hal yang menjadi keluhan yang berarti saat anak khitan menggunakan metode ini, sehingga kami pun sepakat memilih metoda Smart Klamp ini.

Smart Klamp diakui sebagai metode yang paling minim resiko, dan sangat minim pendarahan serta tanpa jahitan seperti metode sebelumnya menggunakan teknologi Sunat Laser yang sepengetahuan saya adalah dengan metode pemasanasan listrik untuk memotong kulit saat proses khitan. Dan ini masih dalah ranah cerita dan testimoni.

Tiba waktunya mas Keis menjalankan proses khitan di salah satu klinik khitan yang cukup terkenal di Bekasi dengan biaya yang tak juga dibilang murah, total biaya adalah Rp. 1.710.000 yang merupakan paket lengkap hingga kontrol paska khitan untuk mencopot tabung Smart Klamp.

Saat proses khitan berlangsung, dengan antrian pasien yang lumayan banyak, dari keterangan petugas bahwa di hari yang sama dijadwalkan ada sekitar 25 orang anak yang akan menjalankan khitan. Di klinik terdapat 2 kamar tindakan dan ditangani oleh 1 orang dokter serta 1 orang perawat yang membantu proses dan menyiapkan alat-alat steril.

Dari penjelasan di internet sebelumnya, dikatakan proses khitan dengan Smart Klamp hanya membutuhkan waktu 5-10 menit, namun dari yang saya alami diluar waktu tunggu, sejak awal masuk ruang tindakan, persiapan alat, anastesi hingga eksekusi memakan waktu sekitar 45 menit, dengan dokter secara bergantian menangani 2 pasien di 2 ruangan yang terpisah sekitar 3 meter.

Saat yang paling menegangkan dan menyakitkan dari proses khitan adalah saat proses anastesi, dengan 3-4 kali tusukan jarum di sekitar alat kelamin anak, namun Alhamdulillah mas Keis tak menangis sedikitpun, dengan arahan yang luar biasa dalam pengaturan nafas untuk mengalihkan rasa sakit dari Dokter yang nampak masih sangat muda. Setelah anastesi, Dokter keluar ke ruang tindakan yang lain untuk menunggu bius bekerja pada tubuh bawah mas Keis, setelah menunggu sekitar 10 menit dokter pun datang kembali dan mulai memegang tang penjepit, tabung Smart Klamp dan juga pisau bedah. Berbeda dengan metode laser, Smart Klamp masih menggunakan proses pemotongan dengan pisau bedah steril dan sekali pakai. Uniknya di klinik ini semua perlengkapan khitan adalah alat yang disposal dan sekali pakai untuk menjaga sterilisasi proses khitan ini.

Hal yang di luar dugaan, diprediksi mas Keis akan merasa kesakitan yang lumayan adalah ketika bius mulai habis, yaitu sekitar 10-12 jam setelah proses, namun Alhamdulillah pada hari pertama dan kedua, mas Keis tak menunjukan keluhan apapun, dan justru pada hari ketiga mas Keis mulai menangis karena merasa sakit yang sangat. Dan setelah di lihat terjadi sedikit pembengkakan di area bawah kemluannya dan sedikit terlihat merah, mungkin ini adalah efek karena mas Keis cukup rewel ketika istinja/cebok selesai buang air kecil, yang harus dibersihkan dengan air infus serta kasa steril serta diakhir dengan obat tetes dari klinik. Sehingga pada area bawah yang meungkinakan air sisa menggenang menjadi kulit merah dan agak bengkak.

Karena khawatir setelah konsultasi dinyatakan kondisi luka Keis masih bagus dan aman, dan nanti akan ada kemungkinan bengkak yang lebih besar paska peroses pembukaan tabung, namun di hari ke-4 tangisan mas Keis mulai berkurang, hanya diberikan obat anti bengkak dan pereda sakit hingga hari ke-5 masa pencopotan tabung Smart Klamp.

Proses pencopotan tabung Smart Klamp seperti layaknya proses mencabut jahitan pada proses khitan konvensional, mas Keis masih terlihat tegar dan semangat hingga saat tabung dilepas oleh dokter, Keis berteriak dengan keras “Sakit…. Sakit.. Sakit…” namun kembali dokter memberikan motivasi dan memberikan arahan untuk pola tarik dan buang nafas untuk meredakan sakit. Proses ini hanya berlangsung sekitar 10 menit saja, sangat singkat dan cepat. Meski sakit ini hanya sesaat ketika tabung di copot oleh dokter, namun 5 menit setelah itu, Keis sudah bisa tersenyum dan becanda, dan minta ditraktir Mie Ramen Halal.

Hari ke-6 mas Keis nyaris tak ada keluhan sakit, seperti sebelum tabung di cabut, dan ternyata hal yang menyebabkan rasa sakit menurut mas Keis adalah karena ada beban tabung yang menempel menyebabkan perasaan terbanting-banting saat berjalan dan menjadi luka terasa sakit dan perih, sehingga setelah copot tabung Keis tak lagi merasa sakit dan terbanting-banting.

Namun hal yang sempat membuat saya panik, di hari ke-6 saya melihat sisi kanan kemaluan mas Keis terlihat membesar, seperti ada kulit/daging yang berwarna putih kemerahan yang keluar dari lingkaran bekas Smart Klamp menempel, namun saya konsultasikan kembali ke klinik, ternyata hal ini memang masuk dalam proses penyembuhan dan ini akan berlangsung sekitar 2-3 minggu untuk bisa kempes dan mengering, dengan perawatan yang harus diperhatikan agar tidak terjadi infeksi.

Hari ke-7 kulit dalam yang keluar tersebut terlihat agak mengempes, dan terlihat lebih baik, dan mas Keis sudah bisa menggunakan celana dalam biasa yang sebelumnya menggunakan celana dalam khusus dengan batok pelindung. Dan hingga saat ini mas Keis tak ada keluhan, sudah bisa buang air kecil sendiri dan membersihkan luka sendiri. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadikan gambaran tentang proses khitan dengan metode Smart Klamp. Saat-saat seperti ini adalah momen yang sangat spesial antara Bapak dengan Anak Lelaki nya, di saat kita bisa merasakan sakit dan ngilu bersama, curahkan waktu, perhatian, kasih sayang dan rasa dalam diri untuk sang anak lelaki yang mulai beranjak dewasa. (Dhy)

Kontroversi Khitan Smart Klamp

Post navigation


2 thoughts on “Kontroversi Khitan Smart Klamp

  1. Tulisannya bagus dan deskriptif.Ada rencana mau sunat anak saya pas libur Semesteran ini. Agak sedih juga sih ngebayangin pas cabut klamp. Mungkin sama kayak zaman kita dulu, pas lepas perban. Terima kasih

    1. Terima kasih mas Rizal, semoga artikelnya bisa membantu dan memberikan gambaran.
      Iya mirip proses buka perban, gapapa sih Insya ALLOH ini proses yang harus dijalanin sebagai Laki 🙂
      Yang penting kita dampingi dan kasih perhatian aja ke anaknya, Insya ALLOH kuat dan bisa melewatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *