Kopi nikmat tak perlu berasal dari tempat yang jauh, kopi nikmat tak harus mahal, kopi nikmat tak harus dalam kemasan yang bagus, kopi Aroma yang di jual di jalan Banceuy kota Bandung adalah sebuah bukti bahwa kenikmatan kopi itu dekat murah dan sederhana. Sebungkus kopi arabica moka seberat 250 gram tak sampai mengeluarkan kocek lebih dari 30 ribu Rupiah untuk sebuah cita rasa kopi yang nikmat luar biasa.

Hal yang unik dari kopi Aroma menurut cerita orang banyak, toko yang mengusung nama dalam ejaan lama Koffie Fabriek AROMA BANDOENG ini sebelum menjual biji kopi mereka terlebih dahulu mendiamkannya selama 8 tahun di gudang-gudang mereka, kalo bahasa keren dari temen saya aged coffee. Sehingga biji kopi yang dijual adalah yang berusia 8 tahun lewat sekian hari. Toko ini seperti layaknya toko kopi tradisional, menyediakan kopi dalam bentuk biji, prosedur yang engkoh lakukan awalnya akan bertanya “Mau yang robusta atau arabica ? You ada sakit maag ga ? kalo you ga ada keluhan sakit maag saya rekomendasikan yang arabika moka, kalo you ada sakit maag ambil yang robusta” lalu engkoh menyuruh staf-nya untuk menggiling dan membungkus jika pembeli memilih membeli dalam keadaan bubuk.

Awal saya mengenal kopi Aroma saya membeli dalam bentuk bubuk, default-nya hasil gilingan menggunakan mesin tua di toko tersebut adalah giling halus, seperti layaknya kopi kemasan yang akrab di mata dan di lidah orang Indonesia. Namun kekinian, setelah memutuskan membeli alat penggiling kopi berukuran mini, saya mulai membeli dalam keadaan biji yang sudah di panggang (roasted bean), karena kabarnya kopi yang baru digiling ketika akan diseduh akan terasa lebih nikmat.

Awal menerima paket biji kopi dari salah seorang teman pecinta kopi Nusantara yang kebetulan sedang bertualang dan berburu kopi di Bandung, saya melihat biji kopi dalam kemasan kertas berlapis plastik ini bentuknya begitu indah di mata, biji kopi yang meskipun tidak semua terlihat dalam ukuran yang seragam, namun hasil roasting (proses panggang) terlihat sangat sempurna, sepertinya medium roasted karena masih terlihat agak kecoklatan, setiap butir biji kopi nya terlihat seperti terlapisi lapisan minyak, hal ini menambah seksi tampilan biji kopi Aroma.

Saat saya giling menggunakan mini grinder, saya sempat takjub, ternyata untuk sesendok makan biji kopi yang saya masukan, saat saya giling terasa sangat ringan, tidak seperti biji kopi sebelumnya yang saya giling terasa agak berat dan komentar kakak saya “kayanya yang kemaren itu agak lembab yah, jadi berat digilingnya, nah kalo kopi Aroma ini kayanya lebih kering, kandungan air nya minim, jadi ringan saat di grinding”.

Lanjut setelah giling, saya seduh dengan metode tubruk yang merupakan metode pour over brewing paling sederhana dan familiar untuk orang Indonesia. Kopi saya seduh menggunakan air mendidih yang sudah saya diamkan sebentar dalam teko leher angsa, saat air panas memenuhi cangkir keramik terlihat ampas kopi  mengapung di permukaan air, saya tutup dan saya diamkan selama 4 menit untuk memberi kesempatan air menyerap ke butir terkecil bubuk kopi untuk berlangsungnya proses ekstraksi menjadi secangkir kopi yang segar, setelah itu saya bersihkan ampas kopi menggunakan sendok.

Cita rasa kopi Aroma sangat unik di lidah saya, rasanya sangat lembut, mungkin ini adalah efek biji kopi didiamkan selama 8 tahun, meskipun kopi arabica namun rasa asam di lidah sangat minim, rasa yang cenderung ringan dan bersih, tak terasa berat dan tak sangat kuat, menjadikan kopi ini sangat cocok untuk dinikmati disaat santai bersama teman dan keluarga.

Boss saya di kantor adalah penderita maag akut, seringkali jackpot di tempat kerja jika asam lambungnya sedang tinggi, tapi dasar laki-laki biasa agak bandel sama makan dan minum yang dipantang, dan beliau pun minta kopi :

Boss : “Mas, ada stok kopi yang enak ga ? saya minta mas ?”

Saya : “Ada nih pak kopi dari Bandung, tapi bapak kan maag, gapapa pak lambungnya ?”

Boss : “Gapapa mas, sekali ajak koq”

Saya : “$&!@$&^!$%&*^~%!*~^!%~… *sambil nyendokin kopi ke cangkir si boss

Dan akhirnya boss saya pun menyeduh secangkir kopi arabika moka berlabel Aroma, sore hari dialog pun kembali terjadi :

Boss : “Mas tadi kopi apa ya ? enak banget, dan lambung saya tidak terasa terganggu setelah saya minum kopi, sampai sekarang perut saya tidak terasa kembung, biasanya agak kembung mas kalo saya minum kopi”

Saya : “Itu kopi dari Bandung pak, katanya emang kadar asamnya rendah, jadi tidak terlalu mengganggu lambungnya”

Sebuah testimoni yang menarik dari seorang penderita maag akut, tapi ini bukan berarti sama memberikan rekomendasi kalo maag minum kopi Aroma saja, karena setiap orang memiliki karakter yang spesifik, kuncinya harus jujur pada diri sendiri terhadap respon tubuh ketika kita mengkonsumsi sesuatu.

Berbeda cerita dengan testimoni si boss, saya merasakan kadar kafein kopi Aroma ini sangat tipis, sehingga jantung tidak terasa berdebar setelah menikmatinya, sehingga saya bisa menikmati dengan rasa aman sambil ditemani cemilan oncom goreng.

Kopi Edisi Introvent
Kopi Edisi Introvent

Pagi ini saya menggiling satu sendok makan biji kopi Aroma dan saya masukan ke dalam plastik wrap untuk saya seduh jam 8 pagi di kantor sambil asik bekerja, dan seorang teman pun berkomentar “Koq kopi nya cuma segitu ?  yang lain ga kebagian dong ?” dan saya menjawab “Ini kopi edisi introvert“. (Dhy)

Kopi Aroma : Rendah Asam Rendah Kafein

Post navigation


2 thoughts on “Kopi Aroma : Rendah Asam Rendah Kafein

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *