Sepulang kantor, terlihat ada sebungkus plastik kresek berwarna hitam yang menggantung di pager, setelah dilihat ternyata ada 2 bungkus kopi dalam kemasan kertas bertuliskan “Kopi Muntu (ulek2)” dan 2 bungkus kopi kemasan plastik polos terlihat tulisan tangan “Kopi Lampung”, kopi pemberian Pak Astho yang baru saja pulang liburan ke Jawa Tengah.

imageTernyata kabarnya Kopi Muntu asal Kutoarjo ini sudah dinikmati oleh pak Astho sejak ia masih duduk di bangku SD, ia selalu berebut sisa kopi Muntu yang sudah selesai diminum oleh ayahnya, sisa kopi ini terasa nikmat karena katanya kopi Muntu yang sudah dingin dan bubuk kopi nya mengendap terasa lebih nikmat daripada kopi yang baru diseduh.

image

Siang-siang tanggung pas mata terasa ngantuk waktu yang pas buat nyeduh kopi hitam, dan saya melakukan brewing dengan cara tubruk, 2 sendok Kopi Muntu tanpa gula dan tanpa diaduk. Setelah 4 menit bubuk kopi berinteraksi dengan air panas, saatnya membuka tutup gelas, kali ini atas saran mbah uti nya Keis, saya menuang kopi ke piring kecil, cara menikmati kopi khas orang kampung, dengan cara ini membuat kopi tidak terlalu panas di lidah meskipun baru 5 menit diseduh.

Di kemasan Kopi Muntu tidak tertulis jenis kopi Arabica atau Robusta, namun tidak lama setelah nyruput dari piring kecil, cita rasa khas Robusta sangat akrab di lidah, uniknya tingkat kepahitan kopi ini sangat pas, tidak mengganggu di lidah, rasa solid ditengah lidah untuk mendeskripsikannya saya meminjam istilah pulen. Untuk after taste kopi ini cenderung terasa clean sehingga meskipun terlihat hitam pekat namun masih terasa ringan di mulut.

Satu lagi yang menarik yang juga ciri khas Robusta, belum habis segelas efek kafein sudah terasa, badan dan mata yang tadinya ngantuk jadi segar. (Dhy)

Kopi Cap Muntu (Ulek2)

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *