Persahabatan, persaudaraan dan pembelajaran bisa terjadi dan dilakukan dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Akhir-akhir ini dan sebelum-sebelum akhir-akhir tersebut banyak yang bertanya kepada saya koq bisa ? Dari mana bisa kenal ? Koq bisa ngaji bareng anak punk ?

image

Tak jauh berbeda proses pertemuan dengan 2 grup band sebelumnya, perkenalan saya dengan komunitas musik termasuk Punk bermula dari hobi saya yaitu fotografi.

Biasanya pertemuan dimulai saat saya meliput mereka latihan band di studio musik atau saat mereka manggung di acara musik underground yang digelar di wilayah Bekasi, sedangkan proses perkenalan awal sebelum janjian moto ini yang juga sulit dijelaskan, nanti saya coba ingat-ingat lagi.

Untuk bisa moto mereka saat manggung, saya harus menyesuaikan jam manggung mereka yang metal banget, biasanya mereka mulai naik panggung sekitar jam 9 atau 10 malam, mereka selesai sekitar jam 12 malam, lanjut ngobrol sambil memperlihatkan hasil foto yang saya ambil saat mereka manggung, selesai jam 1 atau 2 dini hari. Kuping budeg, mata sepet, batre tiris, waktu itu belum kenal kopi hitam, pulang sampe rumah ambil wudhu sholat malam lanjut nunggu subuh, kalo tidur dulu bisa bablas.

Hal yang sulit dijelaskan adalah ketika sampai satu titik mereka mau, minta dan atau bersedia ikut ngaji sama saya yang biasanya rutin sepekan sekali.

Entah bagaimana cara anak-anak metal yang secara kasat mata tidak mungkin mau ngaji, tapi ternyata mereka mau ngaji dengan berbagai latar belakang yang menguatkan niat masing-masing mereka. Dan untuk kebingungan tersebut pilihan kata yang saya pilih untuk menjelaskan hal ini adalah kata “jodoh”, saya bertemu mereka karena jodoh, jodoh yang datang dari sang Pembuat skenario kehidupan.

Sama halnya dengan jam manggung mereka, pengajian anak musik sebelumnya yang berisi Rapper dan Rocker, jadwal ngaji mereka yang disepakati adalah hari jum’at jam 10 malam. Kenyataannya biasanya pengajian baru mulai jam 11 malem, selesai jam 2 atau jam 3 dini hari. Tenggorokan sereg, mata sepet, batre tiris, waktu itu belum kenal kopi hitam, pulang sampe rumah ambil wudhu sholat malam lanjut nunggu subuh, kalo tidur dulu bisa bablas.

Setelah sekitar 4 bulan barulah mereka bisa diajak ngaji rada sorean dikit, di jam yang lebih manusiawi.

Sedangkan proses grup ngaji Punk ini terbentuk dimulai dari perkenalan dengan seorang anak Punk yang lebih dulu hijrah dibanding teman grup band-nya, walaupun demikian dia tetap anak Punk hingga saat ini, sebut saja Angga.

Beliaulah yang mempertemukan saya dengan komunitas Punk wisma asri, Angga menyanggupi mengumpulkan 5 orang temannya “nanti ane coba ajak temen-temen ane nge-Band bang, ada 2 orang, trus tambahan 2 orang yang lain temen kita biasa nongkrong di asri”.

Tibalah malam pertama kami berjumpa, hari jumat jam 9 malam, setelah selang waktu satu bulan, waktu yang diperlukan Angga memotivasi dan mengajak teman Punk-nya untuk ikut ngaji, pertemuan pertama ini hanya dihadiri 3 orang yaitu saya, Angga dan Kiki.

image

Kali pertama ini memang rencananya tak ada materi kajian yang saya sampaikan, hanya ngobrol dan mendengar cerita yang disampaikan oleh saudara baru yang bernama Kiki.

“Saya tidak bisa baca Qur’an bang, bacaan sholat juga udah lupa, saya udah lama banget ga sholat, gerakan wudhu juga lupa-lupa inget, tapi saya pengen banget ikut ngaji bang” demikian cerita Kiki dalam petemuan pertama kami, yang diungkapkan dengan nada agak nderedeg.

Kiki melanjutkan ceritanya “Saya berniat menikah tahun ini bang, karena itu saya pengen ikut ngaji, karena saya ga mau istri dan anak saya blangsak seperti saya”.

Hingga akhirnya pertemuan pertama kami usai, sekitar jam 11 malam, namun sebelum pulang, saya dan Angga menemani dan menunggu Kiki selesai menunaikan ibadah sholat Isya setelah sekian lama vakum tidak sholat. (dhy)

Malam Pertama Anak Punk Ngaji

Post navigation


4 thoughts on “Malam Pertama Anak Punk Ngaji

  1. Masyaa Allah.
    Selalu ada rasa suka dan haru melihat/membaca/mendengar orang2 yang berhijrah.
    Semoga Allah mudahkan langkah kalian saudara2ku,
    Yakinlah, ketika kita mencoba berjalan menuju Allah, Allah datang dengan berlari menyambut kita.

    Keep istiqomah :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *