Mas… Nanti SMP kamu mau masuk di pesantren ?” pertanyaan yang saya ajukan ke Mas Keis di pertengahan ketika mas Keis duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, kemudian dengan terlihat bingung mas Keis menjawan “Emang kalo sekolah di pesantren harus nginep ya bi ? ga bisa pulang aja ? aku mau ke pesantren tapi ga mau nginep” kemudian saya menjelaskan apa itu pesantren dan kenapa harus nginep tidak bisa pulang pergi, memberikan pengertian tanpa melakukan penetrasi bahwa Keis harus ke pesantren.

Latar belakang keluarga kami tidak berbasis pesantren, sehingga jujur saja bagi kami pesantren ga juga jadi keharusan mas Keis melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah. Flashback sebentar, jaman mas Keis mau masuk sekolah TK dan SD waktu mencari sekolah kami selalu ngajak mas Keis, selesai survey langsung nanya ke mas Keis, nyaman atau tidak dengan sekolah baru didatengin.Beda sama 2 tahap sebelumhya, saat mau masuk ke sekolah tingkat menengah, kami tak melakukan survey langsung ke pesantren yang ditaksir, namun dalam menentukan sekolah selanjutnya kami tetap berorientasi ke mas Keis yang akan menjalaninya.

Kelas 4 mas Keis jawab dengan keraguan, di kelas 5 saya tanyain lagi dengan pertanyaan yang sama, dan jawaban mas Keis masih dalam keraguan dan malah menjawab “Terserah abi…“.

Gedung Pesantren Ma’rifatus Salam

Oia, pernah sih kita survey sekali ke Pondok Pesantren Ma’rifatus Salam yang lokasinya di Subang, itu juga program dari sekolahnya mas Keis, program pengenalan lingkungan pesantren, buat memberikan gambaran ke anak-anak gimana sih suasana di pesantren, gimana kehidupan di pesantren dan bisa ngobrol langsung sama santri-santri di sana.

Suasana santri Ma’rifatus Salam menghafal Al-Qur’an

First impression saya sebagai orangtua saat berkunjung ke pesantren ini kurang cocok (subektif sih), dan saya menanyakan ke mas Keis “Gimana mas..? mau masuk pesantren ini ?” dengan tegas tanpa ragu mas Keis jawab “Mau aja sih bi..“.

Kamar Santri Ma’rifatus Salam

Dari dialog ini hal yang ingin saya share adalah, jangan menempatkan sudut pandang anak pada sudut panda kita sebagai orangtua, apa yang orangtua anggap mungkin tidak nyaman untuk anak bisa jadi sebaliknya, dan begitupun sebaliknya. Sehingga jika memang berorientasi kepada kenyamanan dan keinginan anak, maka serahkan sudut pandang ini kepadanya, karena di usia ini mereka sudah bisa melakukan analisa dan pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Ruang belajar Ma’rifatus Salam

Dialog ini terjadi ketika mas Keis duduk di kelas 6, dan saat itu mas Keis sudah tak lagi merasa ragu, meski kami sebagai orangtua jujur masih kadang merasa ragu “Apa iya jadi masukin mas Keis ke pesantren” namun di sini adalah ujian ikhtiar, tawakal dan trust kepada anak yang menjelang dewasa, dalam membuat keputusan untuk masa depannya.

Terkadang saya bingung, dalam waktu 2 tahun, mas Keis bisa dengan signifikan berubah dari keraguan menjadi keyakinan untuk melanjutkan sekolah ke pesantren, dan ketika kunjungan ke Pesantren Ma’rifatus Salam tersebut, saat perwakilan kepala sekolah SDIT Baiturrahman memberikan sambutan menyampaikan “Alhamdulillah dari tahun ke tahun jumlah siswa kami yang melanjutkan ke pesanren semakin bertambah, karena bagi sekolah kami, salah satu parameter keberhasilan sekolah kami adalah melahirkan kesadaran dan keinginan pada diri anak untuk melanjutkan ke pesantren“.

Terjawab sudah kebingungan saya, ternyata iklim semangat masuk pesantren tercipta di lingkungan sekolah, yang saya rasakan adalah adanya semangat kebersamaan antar sahabat dekat di sekolah, dan satu lagi yang unik adalah semangat kompetisi untuk bisa lulus ke pesantren unggulan yang menjadi favorit siswa-siswa sekolah dasar, karena ga tanggung-tanggung pesantren yang diminati mas Keis adalah pesantren yang sudah terkenal susah untuk masuk kesana, saingannya banyak, dan tesnya susah. Bismillah. (Dhy)

Mempersiapkan Anak Masuk Pesantren

Post navigation


Leave a Reply