Tukang gorengan bukan sembarang tukang, pisang molen bukan sembarang molen, jika anda berkunjug ke Bekasi  cobalah mampir ke tukang pisang molen satu ini, lokasi booth nya ada tepat di depan kantor Pos dan Giro Perumnas 1 Bekasi, jika dari arah lampu merah Grand Mol Bekasi, masuk ke perumahan lalu lurus sampai ketemu Masjid Menara kemudian belok kanan, sekitar 100 meter booth pisang molen spesial ada di sebelah kiri anda, sebelum SMP Negeri 4 Bekasi.

Display di Gerobak Selalu Kosong

Uniknya gerobak pisang molen ini jika diperhatikan mulai dari pagi sampai malam hampir tak pernah nampak pisang molen yang nongkrong di tempat display, bukan karena tidak jualan atau karena tidak laku, namun tak tersedianya pisang molen di tempat display pada gerobak milik keluarga pak Wulung ini lantaran setiap batch proses penggorengan selesai langsung dibawa oleh pelanggan yang sudah menunggu disekitar gerobak.

Proses Penggorengan Pisang Molen

Pertama jualan di sini tahun 80, yang jualan kakek, setelah kakek meninggal 3 tahun yang lalu, kami yang melanjutkan” cerita salah seorang cucu pak Wulung menjelaskan sambil menggoyang-goyang pisang molen dalam penggorengan dengan sodet warisan. Pak Wulung, adalah tokoh dibalik cerita pisang molen menara ini, ia mulai berjualan di tempat ini sejak tahun 80, tak pernah pindah lokasi, tak pernah geser dan tak buka cabang.

Pak Wulung meninggal tahun 2013 pada usia 65 tahun, ia meninggalkan seorang istri di kota Cirebon yang tak ikut merantau ke Bekasi karena masih mengurus anak bontotnya yang masih duduk di bangku SMA di Cirebon. Selama di Bekasi pak Wulung tinggal di sekitar perumahan Perumnas 1 bersama salah seorang anak perempuan dan cucu-cucunya yang kini melanjutkan usaha miliknya.

Bahan Pisang Uli atau Pisang Nangka

Saat tahun 2013, awal sepeninggal pak Wulung, gerobak pisang molen sering terlihat tutup tidak jualan, jika pun berjualan nampak lebih sepi dari biasanya. “Rasanya agak beda nih sama dulu waktu bapaknya yang jualan” ungkap ibu Ida Ayu yang sudah menjadi pelanggan sejak duduk di bangkusekolah dasar di tahun 80-an.
Namun mental pengusaha keluarga besar pak Wulung memang sudah teruji, tak sampai setahun anak dan cucu pak Wulung bisa kembali berbenah, baik dari rasa maupun sistem penjualan.

Rasa yang sempat goyah kini hadir kembali di depan kantor Pos dan Giro. “Ini bahannya dari pisang nangka mas, kadang kita juga pake pisang uli, tergantung yang ada aja yang bagus yang mana” jelas ibu yang merupakan anak perempuan pak Wulung.

Proses Produksi Sepenuh Hati

Perbaikan sistem pun telah dilakukan, jika dibandingkan dengan semasa pak Wulung berjualan, semasa itu jika sedang ramai pembeli jam 2 siang pun adonan pisang molen pak Wulung sudah habis, proses produksi dan penjualan pun berhenti. Namun saat ini dari pengamatan saya, hingga malam hari gerobak pisang molen peninggalan pak Wulung masih terus berproduksi, dengan pembeli yang terus berdatangan tanpa henti dari pagi sampai malam hari.

Pisang Goreng Pesanan Pelanggan

Pisang yang baru diangkat dari penggorengan seolah sudah ada label nama pemesannya. “Saya pesan 10 ribu sama 15 ribu ya, jadi total 25 ribu” pesanan dari seorang ibu yang sudah sabar menanti mulai dari pisang dibalut adonan resep asli pak Wulung, kemudian pisang yang sudah dibalut tersebut diceburkan ke dalam minyak di sebuah penggorengan, hingga diangkat dan ditiriskan, ibu pemesan tetap sabar menunggu dan melihat langsung proses produksi tersebut. Untuk setiap batch proses produksi membutuhkan waktu sekitar 10 menit, dengan harga yang terjangkau, hanya 1000 rupiah per buah, rasa legit adonan dipadu manisnya buah pisang siap menemani secangkir kopi hitam di sore hari. (Dhy)

Mental Pengusaha Penjual Pisang Molen Perumnas 1 Bekasi

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *