Di Indonesia hampir bisa dipastikan sangat akrab dengan kalimat “berbukalah dengan yang manis” terutama di saat momen bulan puasa ini. Sehingga tidak heran banyak orang yang memilih menu buka puasa selerti kolak, sirup, es buah dan ditemani dengan teman setia bakwan, tahu isi atau pisang goreng.

Buka puasa dalam bahasa inggris disebut break fast dan ini sama dengan makna sarapan. Hal ini disebabkan kondisi tubuh saat berbuka puasa sama dengan saat kita sarapan, dimana selama 8 jam lebih tubuh tak mendapat suplai makanan, dalam kondisi ini dipastikan nilai hula darah dalam posisi yang rendah, pada tubuh normal bisa dibawah nilai 100.

Bisa dibayangkan, ketika tubuh dalam kondisi tersebut, saat nilai gula darah drop dan seketika bedug maghrib dan adzan berkumandang, tubuh langsung menerima asupan makanan dan minuman yang super manis, lalu seketika itu nilai gula darah akan melonjak tajam melebihi angka batas atas.

Lalu, tubuh akan merespon perubahan kondisi ini dengan cepat, pankreas akan memberikan suplai insulin alami untuk menurunkan nilai gula darah ke kondisi normal dengan mengubahnya menjadi lemak dalam tubuh. 

Secara jangka pendek akan menyebabkan rasa ngantuk, jangka menengah berpotensi menyebabkan kegemukan dan efek jangka panjang pankreas akan rusak karena terus menerus bekerja keras memompa insulin saat gula darah naik mendadak.

Di sisi lain “berbukalah dengan yang manis” tentu umat muslim pada khususnya pasti pernah mendengar bahwa Rasululloh berbuka puasa dengan air putih dan tiga butir kurma.

Lalu kenapa kurma dan air putih ? Kenapa bukan kolek dan tiga potong bakwan ? Atau langsung sepiring nasi ?
Dari beberapa data yang ada, bahwa Kurma memiliki nilai Indeks Glikemik yang rendah, ini berarti dibutuhkan waktu yang cukup lama dibanding sepiring nasi untuk merubah makanan yang masuk ke pencernaan menjadi gula darah. Namun jangan lupa bahwa dengan indeks glikemik yang rendah, sesaat makan kurma tidak akan langsung menyebabkan rasa kenyang seketika seperti setelah makan kolak semangkok.

Dengan demikian saat perut kosong, saat nilai gula dalam darah rendah, dan saat berbuka puasa dengan kurma, maka gula darah akan meningkat secara bertahap, hal ini akan meringankan kerja pankreas, dan tak ada proses penumpukan menjadi lemak sebagai cadangan energi.

Selain memiliki indeks glikemik yang rendah, kurma yang termasuk dalam kategori karbohidrat kompleks ini juga kaya serat, sehingga bersahabat bagi pencernaan, cocok untuk kondisibperut yang baru pertama kali menerima makananan untuk diolah baru kemudian setelah sholat maghrib pencernaan akan lebih siap mengolah makanan yang lebih berat.

Pilihan menu berbuka puasa yang lain adalah buah-buahan segar, secara prinsip mirip dengan kurma, namun lebih pada keunggulan kandungan air dibanding kurma. Untuk indeks glikemik dan kandungan serat meskipun berbeda secara angka namun pada prinsipnya buah juga sangat ramah untuk pencernaan serta aman untuk kadar gula dalam darah.

Puasa adalah menyehatkan, namun pilihan menu saat berbuka dapat mengurangi makna sehat dalam ibadah wajib di bulan yang spesial ini. (Dhy)

Menu Buka Puasa Sehat Cegah Diabetes

Post navigation