Ngulik-ngulik stok foto di hard disk, ketemu stok foto tahun 2015 saat ada perjalanan dinas ke Osaka-Jepang, menyegarkan kembali memori saya indahnya diperlakukan sebagai pemeluk agama minoritas di sana, meskipun hanya beberapa hari saja saya merasakan hal ini. Ini adalah kali kedua setelah sebelumnya tahun 2010 saya gagal makan ramen asli Jepang yang saya idam-idamkan, bukan karena ga ketemu warungnya, tapi saat saya mau order Mr. Makhisima mengingatkan saya “Jangan itu kuahnya dari kaldu kepala babi“. Dan memang untuk amannya, jika muslim sedang kuliner di Jepang untuk tidak pesan makanan berkuah, karena hampir dipastikan kuahnya adalah dari hasil olahan binatang haram.

Hari pertama kami hanya kunjungan ke satu perusahaan saja, berjarak 2 jam perjalanan tanpa macet dari bandara Narita melewati bukit bukit ga jauh beda sama pemandangan di jalan tol cipularang, ditambah gerimis sepanjang perjalanan. Di hari pertama ini tak banyak cerita mengenai kami sebagai tamu beragama minoritas, karena tiba di perusahaan pertama sekitar pukul 10 pagi, tak lama kunjungan lalu lanjut menuju hotel dengan perjalanan sekitar 2 jam, sehingga kami masih bisa melaksanakan sholat Dzuhur dan sholat Ashar dengan jama’ takhir di hotel.

Di hari kedua, inilah awal pengalaman yang menarik dan mengesankan. Setelah awalnya dijelaskan mengenai company profile, lalu dilanjutkan dengan factory visit melihat produk dan proses pembuatan sebuah mesin produksi, tibalah saat jam makan siang. Kami dipersilahkan naik ke lantai 4, lalu masuk ke ruang makan. Saat menyajikan makan siang, seorang pimpinan pabrik yang kami kunjungi memberikan sedikit kata-kata sambutan yang kira-kira terjemahannya seperti ini “Terima kasih telah berkenan datang ke perusahaan kami, semoga kita bisa menjalin kerjasama di masa yang akan datang” kalo ini mah standar ga ada yang menarik, lalu pak boss nya lanjut bicara “Mohon maaf jika sajian yang kami sediakan sangat sederhana, kami sempat bingung karena mendapat informasi bahwa yang akan datang adalah Muslim, yang tidak boleh makan-makanan yang mengandung babi, padahal hampir semua masakan yang biasa kami hidangkan selalu menggunakan bahan dasar babi. Maka kami memutuskan menyediakan sajian berbahan dasar belut yang proses memasaknya pun kami hindari dari bahan-bahan yang mengandung babi, semoga berkenan untuk dinikmati“.

Ruang Sholat – Karpet Merah

Selesai makan siang, tuan rumah kembali bicara “Jika sudah selesai makan, kami sudah menyiapkan kepada bapak dan ibu ruangan yang bisa digunakan untuk melaksanakan ibadah, mohon maaf jika kami tak memiliki ruang khusus untuk ibadah, semoga tempat yang kami sediakan layak untuk digunakan“. Wow… Bukan hanya concern kepada makanan halal yang disediakan, namun tuan rumah juga mengetahui kalo saat ini adalah waktunya sholat Dzuhur, dan saat kami turun ke lantai 2, ternyata ruangan yang disediakan adalah ruang meeting, namun ruangan ini sudah disiapkan karpet merah khusus untuk kami sholat, ruangan yang disediakan pun sudah diperhitungkan jaraknya dekat dengan kamar mandi untuk berwudhu. Penenpatan karpet merah sudah di posisikan menghadap kiblat, sehingga kami tak perlu repot lagi membuka kompas untuk menentukan arah kiblat.

Upacara Minum Teh

Selesai sholat Dzuhur yang di jama’ dengan sholat Ashar, kami diminta kembali ke ruang makan lagi, dan ternyata masih ada acara upacara minum teh khas Jepang, dan ini adalah pengalaman pertama kali bagi saya, setelah sebelumnya nonton upacara minum teh di film Oshin dan Doraemon. Mulai dari nuang bubuk teh, numbuk, menuang air, ngaduk pake adukan yang kaya sikat, mutar-muter gelas, sampe teknik nyeruput diajarin sama ibu-ibu di belakang saya yang bedaknya super tebel, kalah tebel bedak buat papan karambolnya mas Keis.

Sepintas tak ada yang menarik, tapi saya perhatijan ternyata cara megang mangkok yang jadi gelas untuk minum teh ini luar biasa, dengan memegang dua tangan, memastikan kita minum dengan tangan kanan, “suara minum teh nya terdengar bagus” kata ibu-ibu setelah saya nyeruput teh di dalam mangkok, yang ternyata suara minum teh saja dinilai saat upacara minum teh yang kini menjadi upacara kehormatan untuk menjamu tamu yang datang.

Universal Studio – Osaka

Hari ke empat, kami mendapatkan kesempatan main ke Universal Studio Osaka, sejenak dari bocah lagi, walaupun saya ga suka banget piknik ke semacam Dunia Fantasi ini, mending saya pilih liburan ke pantai atau puncak aja dah, yang kebayang di sini itu puyeng naek roller coaster dan permainan lain yang bikin bakal mual dan bisa jekpot, maklum umur ga muda lagi, tapi ya mau gimana lagi.
Untungnya anggota rombongan yang ikut dari range usia yang rata-rata sama, yang dibilang muda juga enggak dibilang udah tua juga iya, jadi Alhamdulillah aman ga ada ajakan naik roller coaster dan permainan ekstrim lain. Yang paling ekstrim hanya naik wahana Harry Potter itu juga sebenernya ogah, tapi dipaksa karena ini wahana yang baru diresmikan tahun 2015, alhasil beneran mual saat keluar dari wahana itu, keren sih tapi bikin mau jekpot, perut kerasa diaduk-aduk muka pucet, nenangin diri duduk deprok di pojokan deket pintu keluar rumah Harry Potter.

Rumahnya Harry Potter di Osaka

Jam makan siang pun tiba di Universal Studio Osaka, saatnya berburu makanan halah, eh ga berburu sih tapi nunggu diajak makan di mana, tenang aja pasti dicariin makanan Halal koq. Setelah muter-muter, akhirnya kami di ajak masuk ke sebuah restoran di dalam Universal Studio dan akhirnya kita disuguhi menu pasta.

Pasta vegetarian

Sepintas terlihat seperti pasta biasa, ya kalo bahasa Tambun nya mah spageti. Namun kepala rombongan asli Osaka menjelaskan bahwa pasta yang dipesan adalah pasta vegetarian, semua bahan yang digunakan adalah bahan nabati tak mengandung bahan hewani, cara memasaknya pun bebas dari kandungan bumbu hewani, minyak yang digunakan adalah minyak zaitun, masalah rasa, hmmmm nyamleng.

Setelah hari-hari sebelumnya kami kunjungan ke beberapa pabrik modern dengan fasilitas yang super canggih, di hari terakhir sebelumnya pulang, kami diajak ke sebuah pabrik tua, di tengah kota Osaka yang baik gedung, mesin sampai pegawai pabriknya pun kayanya seumur, udah tua. Mesin yang digunakan juga sudah usang, namun yang menyentuh hati saya, bagaimana seorang pekerja yang sudah aki-aki dengan sabar dan telaten melakukan kegiatan polishing dengan tangannya, yang kabarnya pekerjaan tangan di Jepang merupakan pekerjaan yang paling mahal dan presisi.

Setelah selesai keliling pabrik tua, kami naik ke lantai 2, bertemu kembali dengan direktur yang juga sudah tua. Kami istirahat disuguhi minuman kopi dingin dengan gula cair yang terpisah, lalu terdengar suara yang agak bergetar karena faktor usia “Ini sudah jam 3 sore, sudah waktunya kalian melaksanakan ibadah sore” ucap Mr. Takano bertanya kepada kami sambil melirik ke staffnya untuk mempersiapkan ruang ibadah. “Kami sudah menggabungkan ibadah siang dan sore menjadi satu” dan Mr. Takano pun mengangguk. (Dhy)

Muslim Nyaman di Jepang

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *