Disambut rintik gerimis romantis diketinggian langit kota Padang, tapi pas pesawat maju dikit, turun lagi dikit, gerimisnya udah reda, sampai akhirnya mendarat di Bandara Minangkabau.

Garis Pantai Padang

Pak Rudi nyeletuk “Padahal bandaranya ga gede-gede amat, tapi jadi bandara internasional, tau ga Mas kriteria bandara internasional itu apa ya…?”.

Welcome Wefie

Nunggu bagasi, dapet koper langsung wefie, tindakan wajib mengikuti pola kekinian, cukup pake henpon ga perlu pake kamera yang serius-serius, yang penting cukup buat update status, antri para pe-wefie di booth foto yang sama, pejalan kaki pun dihentikan saat pe-wefie beraksi karena memang pas motong pintu keluar.

Keluar pintu bandara clingak-clinguk, nyari rompi merah yang mencar awur-awuran, sampe akhirnya pada kompak menuju ke bus jemputan. Cerita dan cletukan di dalam bus hampir seragam “Pak belok dulu aja… Anaconda di perut udah pada demoo niih….”.

Rasa lapar yang menghujam karena adanya perbedaan tekanan udara antara di luar dan di dalam perut, efek tak lama landing dan turun dari pesawat maklum orang kampung Rawakalong, mendengar aspirasi penumpang akhirnya sopir bus berhenti di sebuah rumah makan besar, rumah makan ikan bakar dan aneka bakar-bakaran lain. Pak Haji ngomong “Masa jauh-jauh ke Padang makan ikan bakar, di muara angke banyak, yuk lah kita nyari rumah makan Padang”.

Warung Ampera 99

Jalan lurus, 150 meter belok kiri, jalan agak turun, nampak udah ada peserta lain yang mulai berdialog dengan ibu yang punya warung, sesuai arahan ketua rombongan “Tips makan siang di Pantai Padang…tanyakan harganya terlebih dahulu karena Pantai Padang area Wisata, bisa jadi harganya sedikit beda..demikian tips siang ini”.

Pak Haji selaku pimpinan tim negoisator harga berbisik “Delapan belas ribu”. mendapat sinyal aman dari pak Haji, kamipun masuk warung, ambil piring dan menunggu sendok yang sedang diambil, karena sendok jarang terpakai di warung ini. Ternyata makanan di warung sederhana ini rasanya wuenak bingitz, rasa gurih dan pedesnya beda sama makanan warung Padang yang ada di Bekasi, pedas, gurih dan overall rasa lebih betani, dengan bumbu masak di tanah aslinya, trus pak Haji bilang “Makanya, jangan menilai rasa makanan dari penampilan warung dan penampilan makanannya aja”.

Usai makan ikan tongkol dicabein ples talua dadar, gerimis kembali menambah romantisme peaisir pantai kota Padang, clingak-clinguk ternyata di seberang ada warung kopi. Akhirnya satu tim sepakat menghangatkan diri di warung kopi di seberang.

Kopi Saset DAS

Awalnya yang dicari kopi sasetan biasa, eh setelah menelusuri saset demi saset yang digantung, terselip serenceng kopi saset yang agak janggal, dan tertulis “Bubuk Kopi 100% Asli DAS”.

“Pak saya kopi yang ini ya” Pak Uwo dengan sigap langsung mengambil renceng kopi yang digantung sambil bilang “Kopi hitam ya..?”.

Tak lama pak Uwo membawa 2 gelas kopi, dan saya lupa bilang, ternyata Pak Uwo sudah menambahkan gula di kopi DAS pesanan saya.

Srufuut Kopi Padang

Sambil ketakutan kopi terlalu manis, sambil mengucap Bismillah, kopi masih panas, akhirnya disrufut pake sendok, dan langsung bilang ke pak Uwo “Wahhh…. Enak pak, manisnya pas, pakai gula tapi rasa kopinya masih terasa nikmat” sambil senyum dan sesekali menghisap rokok di jarinya, pak Uwo menjawab “Saya ini juga suka ngopi, jadi saya tau takaran yang pas, kalo ibaratnya, saya itu main ditengah-tengah”. (dhy)

Ngopi di Pesisir Pantai Padang

Post navigation