Beberapa tahun belakangan ramai orang membicarakan tentang kopi, ramai orang berduyun-duyun mendatangi kedai kopi, ramai orang selfie dan mengunggah foto di kedai kopi, tapi pertanyaannya apakah mereka benar-benar ngopi di kedai kopi yang mereka datangi?

Penasaran sama pertanyaan di atas, akhirnya saya kalo lagi nge-mol suka lirik-lirik ke beberapa kedai kopi kekinian. Setiap saya melirik di kedai tersebut saya selalu melihat gelas-gelas yang ada di meja, karena dari gelas yang ada saya bisa menebak kira-kira menu apa yang para pelanggan kedai kopi tersebut pesan.

Alhasil lirak-lirik saya, di meja-meja tempat para pelanggan duduk, hampir tak terlihat cangkir yang terbuat dari keramik, yang terlihat adalah gelas-gelas plastik bening dan tinggi dengan puncak seperti gunung es yang berwarna putih, dan tentu itu bukan kopi menu kopi hitam. Bisa saya tebak yang dipesan adalah ice latte, ice cappucino atau minuman coklat susu atau bahkan ada yang pesan teh.

Selain itu hasil lirak-lirik saya di luar perihal menu yang dipesan, satu lagi yang saya perhatikan adalah tidak ada meja yang diisi oleh satu orang saja meskipun ia adaah seorang jomblo, melainkan di setiap meja minimal ada dua atau lebih pengunjung yang terlihat berbincang hangat, seru dan sesekali diwarnai dengan tawa yang cukup menggelegar.

Inilah fenomena yang terjadi saat di Bekasi dan sekitarnya, banyak orang datang ke kedai kopi, selfie dan moto menu makan minum yang ternyata bukan menu kopi hitam bagaimana bayangan awal tentang kedai kopi di era tahun 90-an.

Para pengunjung pergi ke kedai kopi namun tidak mencari kopi enak, kopi nikmat, dan cerita di balik secangkir kopi, seperti yang biasa saya dapati di komunitas kopi Bekasi. Sebagian besar pengunjung hanya mencari tempat nongkrong asik dan tempat berkmpul serta berbincang dengan teman dekat.

Dapur kopi untuk secangkir kenikmatan duniawi

Pilihan kopi single origin hampir dapat dipastikan bukan merupakan incara utama bagi pengunjung kopi tersebut, sebagian besar pengujung pesan minuman non kopi, paling hebat pesan latte dingin dengan kecrotan berbagai flavour dan berbukit es yang akan makin menghilangkan rasa khas kopi.

Bekasi kini ramai tumbuh kedai-kedai kopi kecil, yang menjadi perhatian saya, apakah para pengusaha kedai kopi ini akan dapat bertahan dan mampu bersaing dengan sesama kedai kopi skala kecil ? atau bahkan dengan kedai kopi yang bermodal tak terbatas, belum lagi dengan kedai kopi milik pengusaha multi nasional ?

Sudut instagramable

Cara di atas yang dilakukan oleh pengusaha kopi bermodal besat inilah yang bisa dikatakan cara terbaik dari segi hukum ekonomi, tak idealis mempromosikan nikmatnya kopi nusantara, tapi lebih fokus bagaimana menangkan selera pasar ditambah WiFi gratis dan dekorasi beberapa area spot instagramable, dan jangan lupa ditambah dengan strategi online marketing dengan akun medsos bersponsor.

Namun kita sebagai anak bangsa, harus juga memiliki jiwa Nasionalisme yang tinggi, jangan hanya fokus bagaimana mencari uang yang banyak. Namun ditengah strategi marketing yang berfokus pada penjualan, ada baiknya tetap menyiapkan satu area untuk para penikmat kopi sejati, yang bukan hanya mencari nikmatnya secangkir kopi hitam, namun lebih mencari sejuta cerita di balik nikmatnya secangkir kopi.

Barista melimpah informasi kopi

Mengayakan barista dengan berbagai informasi dari kopi yang ia sajikan sebagai bahan perbincangan dengan pelanggan spesial ini.

Secangkir cerita

Selain untuk para pelanggan spesial, ada baiknya pengusaha kedai kopi juga membuat program-program edukasi kepada para pengunjung yang tidak suka kopi, mengenalkan kepada mereka bahwa kopi hitam itu ga cuma punya rasa pahit, tapi ada berjuta rasa dan cerita karena kopi nusantara adalah persembahan karya para petani kopi Nusantara yang merawat pohon kopi dengan penuh cinta. (Dhy)

 

 

Nongkrong di Kedai Kopi tapi Tidak Ngopi

Post navigation


Leave a Reply