Nyetrit…. Istilah yang sering terdengat dari anak-anak Punk, bahkan ada satu identitas yang disebut anak-anak street punk. Setelah sekian lama baru ngeh salah satu maknanya itu jalan kaki, Alhamdulillah kemarin bisa nemenin Randy yang lagi kangen nyetrit keliling bogor, total 16.000 langkah dengan jarak tempuh 12.5 KM.

Ane sih lebih seneng jalan kaki bang, lebih bisa nikmatin, daripada naik mobil ga ada ceritanya” Randy mengawali langkah dari stasiun Bogor menuju ke jalan Pancasan, saya sendiri sempet bingung dengan makna “nikmatin” dari kata-katanya Randy barusan.

Pagi ini langsung cek beberapa artikel tentang jalan kaki dan ternyata banyak hadits dan beberapa kisah sahabat tentang jalan kaki.

Salah satu kisah ketika Khalifah Umar bertanya kepada seorang sahabat apakah ia mengenal seseorang dengan menanyakan “Apakah dia pernah menemanimu dalam safar ?”.

Dari sejarah sahabat nabi, kembali ke nyetritnya anak-anak Punk “Anak Punk sama anak jalanan itu beda mas, keliatan dari bagaimana dia bersikap sama temennya, gimana dia ngobrol, dari cara dia makan aja, mana ada anak punk yang kalo laper pergi sendiri makan, trus balik lagi nongkrong, pokoknya beda deh mas” penjelasan tambahan Randy dengan nafas yang stabil tanpa terengah-engah, maklum Randy bertubuh kurus penuh dengan coretan tato.

Celingak-clinguk sepanjang jalan dari Stasiun Bogor ke arah BTM akhirnya belum setengah jalan ketemu masjid untuk Sholat Dzuhur. Selesai sholat Dzuhur, karena dari Bekasi jam 09.30 pagi, tiba di Bogor jam 12.30 perut mulai terasa keroncongan dengan cuaca Bogor yang tak lagi sejuk.

Yaah bang.. Kalo abang maksa makan nasi Padang, saya sih ga bisa nolak, kalo kata Ustadz Oemar Mitta, kalo ada orang yang berbuat kebaikan dan kita menolak sakitnya tuh di sini” cerita Randy sambil menunjuk dada, meniru gerakan Ustadz Oemar Mitta waktu ikut kajian di Kopi HOS Galaxy Bekasi.

Sepanjang perjalanan, mendengar Randy menceritakan masa lalunya yang blangsak, yang tidak bisa saya ceritakan di sini, kalo mau cerita lengkap japri aja 🙂

Dan sepanjang perjalanan jadi saling mengenal, dengan beberapa kali kisah hidup Randy disambungkan dengan beberapa kisah Rasululloh dan para sahabat.

Nongkrong di Pancasan

Setelah hampir satu jam akhirnya tiba di Pancasan, tempat temen-temen Punk kumpul, dan barulah paham kata “Nikmatin” yang Radny bilang di awal, ternyata memang dengan nyetrit solidaritas Punk terbangun dengan tangguh.

Mas… Udah mulai panas nih, kita naik angkot aja yuk” akhirnya kenikmatan itu mulai hilang saat efek kenikmatan nasi padang mulai terasa di dalam tubuh Randy. (Dhy)

Nyetrit di Bogor Bareng Anak Street Punk

Post navigation


Leave a Reply