Tak ada mesin espresso, tak ada V60, tak ada french press, apalagi chemex di kedai kopi ini, karena ini adalah warung kopi khas indonesia, dengan gerobak seadanya, bangku kayu panjang dan dekorasi warung berupa beragam warna serta merk kopi rencengan, dekorasi sederhana yang membuat suasana warung kopi ini menjadi ceria.

image

Pelanggan hanya perlu menunjuk ke salah satu barisan kopi renceng, maka secara otomatis “barista” akan mengambil gunting, gelas dan termos berisi air panas yang tak pernah teridentifikasi berapa temperaturnya.

Ketika duduk di bangku kayu panjang, terlihat bapak paruh baya menikmati segelas kopi susu kesukaannya, dengan tatapan kosong ke arah pasar tradisional disertai suara sruputan dari bibir gelas, suara yang terdengar sempurna. Bapak sedang menunggu kedatangan istri yang sedang asyik belanja sayuran.

wp-1462889471628

Saya lagi anter istri mas, istri saya biasa belanja sayuran di sini, selisih harganya lumayan jauh sama di tukang sayur yang lewat di perumahan, tapi ya ndak semua sayuran yang kita beli di sini, beberapa sayuran yang bisa tahan seminggu atau dua minggu aja, kaya kentang, wortel dan sejenisnya lah mas. Cerita pak Pardjo di bangku kayu panjang dengan wajah yang ramah meski kami baru berjumpa sekali saja di Pasar Baru Bekasi ini.

Dulu saya suka kopi macem-macem mas, berbagi merk saya minum, ga pilah-pilih, saya kalo ngopi itu pagi-pagi, segelas besar, kalo pagi-pagi saya ga ngopi kepala rasanya berat, bawaannya ngantuk. Tapi sekarang saya ga berani ngopi macem-macem, saya cuma cocok sama kopi ini. Sambil menunjuk salah satu barisan kenceng kopi sachet di warung kopi.

Pak Pardjo melanjutkan cerita hidupnya bersama Kopi sachet asli Indonesia, sejak usia saya menginjak 40, saya kalo ngopi yang lain kerasa sakit di pinggang, tapi kalo kopi yang ini ga sakit mas.

Hati-hati mas, di usia 40 kondisi tubuh mulai terasa nge-drop, harus serba hati-hati, ya ga boleh kecapean juga jangan makan minum sembarangan, langsung kerasa ke badan mas. Pesan bijak dari Bapak kepada saya, yang mungkin bisa menebak berapa usia saya.

Tak lama bu Pardjo pun datang sambil membawa rencengan berisi sayuran segar yang sekel-sekel. (Dhy)

Obrolan di Warung Kopi

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *