Memiliki dua anak perempuan memiliki keunikan tersendiri dibanding saat baru memiliki 1 anak laki-laki, ketika Mas Keis mulai lahir hingga besar, tidak pernah terlalu memperhatikan penampilan dan pernak-pernik seperti saat  Ziya dan Shareen kini sedang tumbuh lucu-lucunya.

Diantara pernak-pernik yang wajib diperhatikan untuk anak perempuan adalah anting, awalnya saya dan istri memiliki pemikiran ideal bahwa untuk anak memberikan yang terbaik, maka untuk anting Ziya dan Shareen kami belikan anting berbahan emas 24 karat. Alhasil, Ziya sudah dua kali kehilangan anting dan kini Shareen nyaris pula dua kali kehilangan antingnya, karena emas 24 karat sangat lentur dan mudah berubah bentuk, apalagi kedua anak perempuan saya termasuk yang sangat aktif juga untuk urusan tangan yang suka memainkan anting di kedua kuping mereka.

Setelah kali kedua Sharin kehilangan antingnya, maka saya dan istri memutuskan untuk mengganti anting mereka  dengan anting yang terbuat dari perak, demi keamanan dan anting emasnya untuk sementara akan kami simpan.

Pada hari minggu siang, saya meluncur ke tempat penjualan perhiasan biasa saya membeli anting sebelumya, yaitu di pasar lama atau yang dikenal dengan pasar proyek Bekasi, biasanya saya membeli di Toko Anyan namun kali ini tutup, akhirnya saya berhenti secara random di salah satu toko emas di proyek. “Bu, ada anting perak untuk anak-anak ?” dengan cepat ibu-ibu penjaga toko perhiasan tersebut menjawab “Di sini ga jual perak mas, kalo mau cari perak ada di Grand Mol atau di Metmol

Masih di toko yang sama tidak lama seorang mas-mas yang sedang transaksi di toko tersebut menimpali “Coba cari di Pasar Baru Bekasi mas, tempatnya udah enak koq, udah ga becek” saya masih ga percaya ah masa iya di sepanjang jajaran toko perhiasan di proyek ini ga ada yang jual, dan akhirnya saya mencoba secara acak lagi berhenti berselang 5 toko dari toko pertama, dan jawaban engkoh pemilik toko “Kita di sini jual emas semua pak, kalo perak kita ga jual“.

Akhirnya saya langsung meluncur ke Pasar Baru Bekasi yang terletak di depan Terminal Bekasi. Seolah dejavu, seolah memasuki lorong waktu, setelah sekian lama tak menginjakan kaki ke pasar ini dan akhirnya kini kembali untuk mencari toko perhiasan perak.

Pasar Baru Bekasi – Tampak Depan

Area parkir motor tersedia sangat luas dan memang tak lagi becek, saat memasuki area parkir saya sempat terdiam sejenak menunggu karcis dan abang penjaga parkirnya ngomong “Langsung bayar mas, dua ribu” setelah mendapat akses, langsung memarkir motor untuk segera masuk ke dalam Pasar Baru Bekasi.

Etalase Pasar Baru Bekasi

Berjalan langsung menaiki tangga entah di sebut lantai berapa, menuju area kiri pasar langsung menyelinap ke jalan kecil yang kanan-kirinya dihiasi baju warna-warni beraneka model, mulai dari baju anak hingga baju dewasa, mulai dari pakaian dalam hingga gaun pesta, mulai dari kebaya juga pakaian modern.

Merasa tersesat saya langsung bertanya kepada salah satu SPG di sebuah kios “Mba, kalo toko perhiasan di mana ya ?” dan dengan ikhlasnya Mba nya menunjuki arah “Di bawah mas, semua toko perhiasan ada di bawah, mas lurus aja, di ujung ada tangga, turun langsung ketemu toko perhiasannya” langsung saya menuju arah barat atau sisi kanan Pasar baru Bekasi.

Tangga Turun Sisi Barat – Pasar Baru Bekasi

Dan benar saja ketika saya menuruni tangga yang disambut penjual cabe yang kini harganya sangat mahal serta aneka pilihan ikan asin, puter balik langsung terlihat beberapa toko perhiasan. Namun ternyata mencari perhiasan perak tak semudah mencari perhiasan emas, bertanya ke satu toko ternyata tidak menjual perhiasan perak, lalu mampir ke toko kedua, juga tak punya perhiasan perak, namun mbak penjaga toko dengan baik memberikan petunjuk “Kalo nyari perak di sana mas, di Abadi Silver, tuh tokonya” sambil menunjuk ke arah selatan pasar.

Abadi Silver – Pasar Baru Bekasi

Dan alhamdulillah akhirnya ketemu juga, Toko Perak Abadi Silver tokonya tidak terlalu besar, namun memang mayoritas yang ditawarkan adalah perhiasan perak, tetap ada perhiasan emas yang di jual. Saya langsung ditangani oleh nci “Mau cara apa mas ?” sambil liat ke koleksi perhiasan perak “Cari anting perak ci” akhirnya dengan sabar nci memberikan saya beberapa pilihan, mulai dari yang polos, bermata berlian imitasi hingga yang ada karakter hellokity. Akhirnya saya memilih yang bermata berlian imitasi, mau pilih yang berkarakter takut ditarik oleh dua anak perempuan saya.

Pilihan Perhiasan Perak

Emang istri mas langganan sini ?” nci bertanya dengan senyuman setengah heran “Enggak ci, ni dikasih tau toko sebelah” dan setelah nci memerintahkan stafnya membuat kuitansi lanjut bicara “Iya mas, kalo anting perak biasanya akan awet, ini kunciannya kuat, ga kaya emas, lentur gampang lepas” sambil mempraktekan buka tutup kuncian anting Shareen dan Ziya.

Saat sesi pembayaran yang bikin bengong “Jadi semua 70 ribu mas, untuk dua pasang anting” sampai saya yang hobi nawar ga kepikiran nawar, karena informasi dari kakak saya yang membeli anting perak di Mal Kelapa Gading, untuk sepasang anting yang mirip modelnya dibanderol seharga 100 ribu rupiah lebih.

Belanja di pasar tradisional memang selalu ngangenin, walaupun awalnya kalo terbayang suasana pasar jadi males duluan, tapi kalo udah di dalem pasar malah terbawa suasana. Semoga di tengah kian berkembangnya teknologi internet dan online store, pasar tradisional akan terus berjaya dan makin maju bersama tumbuhnya perekonomian Indonesia. (Dhy)

Penjual Perhiasan Perak di Bekasi

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *