Lagi asik sesi foto Ziya di depan rumah mbah uti, seperempat jam menjelang adzan Maghrib, terlihat dari kejauhan seorang abang sol sepatu mengayuh sepeda yang sudah di modif menjadi kendaraan dinasnya untuk menawarkan jasa sol sepatu. Teringat pada sepasang sepatu yang dulu biasa dipake buat nyetir, nyaman karena alas yang tipis dan bobot yang ringan, sepatu yang menemani saya dalam perjalanan Bekasi-Dawuan kurang lebih 2.5 tahun lamanya, sepatu yang menjadi alas kaki yang ketika itu jarinya remuk ketiban Dumbell 5 kilogram, yang sepatu tersebut kondisinya kini mengenaskan karena sol yang sudah terbuka dan ga karuan.

Bang sol sepatu” menghentikan kayuhan abang sol sepatu dan mengambil sepasang sepatu berwarna biru. “Sol ini yang bang, sekeliling” sambil memberikan sepotong sepatu kepada abang sol sepatu “yang sebelah lagi mana mas” tanya abang sol sepatu, “Ini sol aja dulu yang satu, satunya saya cari dulu, keselip kemana ga tau“.

Sebelum memulai pekerjaannya, saya bertanya harga sama abang sol nya “sepasang jahit keliling berapa kang” abang sol memutar-mutar sebentar sepatu saya yang cuma sebelah, proses analisa untuk mengeluarkan penawaran harga kepada saya “30 rebu kang, ini sepatu bentuknya lekak-lekuk, susah di jaitnya” wihh harga sudah keluar, lanjutkan aksi tawar sampai cingcai “Hahhh…? malah amat kang… 20 rebu lah” dengan gaya lebay khas kakak Ziya, “kalo 20 mah ga dapet kang, ini susah model sepatunya, yaudah deh 25 rebu ya..?” dan akhirnya deal dengan harga jasa 20 Ribu Rupiah. Saya serahkan sepatu kanan dan nyari lagi yang kiri entah keselip di mana.

Kang Pendi

Tidak lama kang Pendi yang jika bicara berlogat khas tanah Sunda mengeluarkan peralatan sol nya, dan ketika saya sudah mendapatkan sepatu yang sebelah kiri, tak lama terlihat seorang abang sol sepatu yang juga mengayuh sepeda dari arah barat menuju kami di sisi timur, saya pun bilang sama kang Pendi “Kang…  Itu ada tukang sol sepatu lagi, banyak ya saingannya sore-sore“, sambil mulai ngeluarin jarum sol sama memilih benang sol yang pas, kang Pendi jawab “Iya mas, nyari rezeki bareng-bareng“.

Tangan Terampil Kang Pendi

Setelah kang sol yang gowes dari arah timur, tau-tau berhenti di samping saya, parkir sepeda, ngeluarin bangku kecil khas kang sol patu, duduk samping kang Pendi trus ambil sepatu saya yang sebelah kiri, tanpa banyak cingcong, itu kang sol yang awalnya saya kira saingan kang Pendi malah bantuin nge-sol sepatu saya, wowww saya takjub, awalnya saya kira mereka saling bersaing, namun kenyataan nya mereka saling membantu.

Persahabatan

Iya mas, ini temen satu kontrakan saya, saya dan kang Tio ini asli dari Garut” penjelasan kang Pendi yang sudah hijrah ke Bekasi sejak tahun 2006. “Biar ngejar selesai sebelum maghrib mas, kita kerjain berdua” lanjut kang Pendi sambil dengan tangkas memegang sepatu saya dan menusuknya dengan jarum, kemudian ia tarik benang sol berwarna hitam yang ia masukan dengan jarum.

Jarum dan Benang Sol

Alhamdulillah tepat pukul 18.00, 10 menit sebelum Maghrib, kang Pendi dan kang Tio selesai menjahit sepasang sepatu saya. Dan karena pelayanan yang sangat memuaskan dan persahabat yang mengharukan akhirnya saya berikan uang untuk jasa yang telah mereka berikan “Ini kang, saya ga jadi nawar, harga yang awal aja“. Mencari rizki bukan berarti harus bersaing, mencari rizki dengan meyakini bahwa rezeki sudah ada yang mengatur dan tugas kita hanya berusaha menjemput rizki akan membuat hati terasa tenang dan senang menjalankan pekerjaan sepenuh hati. (Dhy)

Persahabatan Dua Abang Sol Sepatu

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *