Manual brew, seduh manual dalam arti sebenarnya, tak ada timbangan, tak ada sendok takar, tak ada thermometer, tak ada timer, biji kopi saya Giling dengan kekasaran medium pas untuk seduh tubruk, numpang giling di kedai Kopi Baris.

Rebus air menggunakan ketel punya mbah uti, pluit ketel berbunyi, diamkan sekitar 1 menit, bubuk kopi sebanyak satu setengah sendok sudah saya siapkan di gelas, menunggu air matang tutup gelas agar tak hilang aroma kopi ini.

Setelah air menunggu satu menit dari titik didih bertemulah bubuk kopi dengan air panas, saya diamkan selama sekitar 4 menit tanpa gula dan tanpa diaduk.

Saat saya menerima biji kopi, saya hirup aroma dari plastik pembungkus, tercium aroma yang agak gosong, tebakan saya biji kopi di roast di tingkat dark, dan tebakan saya lagi sepertinya kopi ini akan terasa agak pahit.

image

Namun saat selesai menggiling biji kopi ini di kedai Kopi Baris, aroma bubuk kopi saya hirup, tercium aroma segar khas kopi Arabica, terasa cita rasa moca agak keasaman, aroma gosong yang tercium saat bentuk biji pun tak nampak, membuat semakin penasaran tak sabar untuk menyesap kopi ini.

image

Empat menit berlalu dari awal seduh, mulai membersihkan bubuk kopi yang terangkat dipermukaan gelas menggunakan sendok stainless, saat menyesap pertama Kali terasa kesegaran Arabica, asam dengan tingkat keasaman yang tidak mengganggu lidah, body yang lumayan strong hampir tak terasa pahit, namun after taste barulah bergulir sedikit rasa pahit di lidah. Pahit yang hanya sesaat terasa, pun tak sepahit kopi sachet khas Indonesia tanpa gula.

Menikmati kopi sambil membaca koleksi majalah tahun 2005, sekitar 15 menit, body mulai terasa lebih Kuat, begitu pula dengan tingkat rasa pahit yang melingkar, namun after taste tetap hanya sesaat sehingga rasa pahit tak sampai mengganggu lidah. Kadar kafein pun cukup bersahabat, tak sampai memicu cetak jantung dan memancing asam lambung.

Secangkir kopi Preanger Klasik ditemani sepotong bakwan udang dan artikel-artikel di majalah lawas, menjadikan siang jelang Ramadhan terasa sempurna. (Dhy)

Preanger Classic Arabica – Philo Coffee

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *