Setelah sekian purnama akhirnya bisa berkunjung ke kedai kopi milik seorang teman sekolah, teman yang sering pulang gowes bareng naik sepeda dari SMPN 1 Bekasi ke rumah. Gowes sepeda dengan rute perjalanan melewati moda transportasi getek, tarif per-trip-nya ketika itu adalah 50 Rupiah dan seringnya kita membayar tarif untuk trip PP senilai 100 Rupiah.

Kedai kopi itu bernama Bekopi, sebuah kedai kopi kecil di kota Bekasi, tepatnya terletak di simpang empat area Rawa Panjang. Kedai milik Ridwan yang sejak SMP akrab di panggil Bebek.

Ba’da maghrib tiba di Bekopi Ridwan sedang sibuk meracik kopi, kopi pesanan 2 orang pelanggan yang juga merupakan teman dekatnya, satu adalah owner sebuah barber shop terkenal di daerah Pekayon dan satu lagi adalah seorang art designer asli Bekasi.

Seperti biasanya dengan asumsi membuka obrolan seperti yang biasa saya lakukan di beberapa kedai kopi, namun ternyata di Bekopi memiliki nuansa dan tema obrolan yang berbeda dari kedai kopi pada umumnya.

Dhy : “Bek, ada kopi apa ?

Ridwan : “Gw cuma ada satu macem aja bro, Kopi Jonggol

Dhy : “Single origin yang Arabica ada ?

Ridwan : “Gw ga punya yang full Arabica, paling banter gw mix Arabica Gayo 70% sama kopi Jonggol 30%

Dhy : ”Oooooo… Trus biasanya diseduhnya gimana ?”

Ridwan : “Nah itu… Gw mah males nyeduh pake manual brew atau cara macem-macem, paling ya pake itu mesin espresso aja

Dhy : ”Ooooo…. Yaudah Kapucino aja deh Bek…”

Sebuah jawaban yang berbeda dari barista yang pernah saya jumpai di kedai kopi lain, yang biasa menceritakan berbagai macam biji kopi dari beberapa daerah yang berbeda, cerita lengkap dengan cita rasa dan karakter masing-masing kopi tersebut.

Awalnya saya mengira bahwa kopi Jonggol itu hanya sebuah brand saja dan bukan merupakan tempat perkebunan kopi, “Di Jonggol ada kebun kopi Dhy, tapi yaaa perkebunan-perkebunan kecil gitu aja, seringnya dijual di sekitar perkebunan aja, nah gw ngambil dari situ” cerita Ridwan yang membenarkan bahwa di dekat Bekasi tepatnya di Jonggol yang masuk wilayah Kabupaten Bogor juga terdapat perkebunan kopi robusta.

Ridwan a.k.a Bebek

Yaa gw mah gitu dhy, gw orangnya males ngulik, jadi ya gw nyeduh kopi ya gini-gini aja, paling pake mesin, trus campur susu udah” lanjut Ridwan sambil mengaduk susu untuk campuran cappucino pesanan saya, Ridwan mengaduk susu dengan menggunakan mixer kue sebagai pengganti frother yang biasa di gunakan oleh barista lainnya.

Obrolan dan Secangkir Kopi

Yang saya rasakan di Bekopi, Kopi hanya menjadi sebuah sarana untuk saling berinteraksi dengan seluruh sahabat yang datang ke Bekopi. Dengan secangkir kopi, obrolan mengalir begitu indah, mulai dari perencanaan usaha dengan rekanan bisnis, memperluas jaringan bisnis, sharing fotografi hingga obrolan sebagai seorang hamba yang ingin lebih mencinta dan dicinta oleh Sang Pencipta.

Dhy dan Ridwan

Alhamdulillah Dhy, gw bisa kenal sama Ustadz Loey, jadi kalo ada sesuatu yang gw bingung, dan pengen gw tanyain mengenai Agama, gw bisa tanya ke doi, karena Ustadz Loey emang punya basic, karena kuliahnya di LIPIA” cerita Ridwan tentang usaha dan perjalanannya untuk mempelajari Agama.

Secangkir Kopi Jonggol

Sesaat ketika saya pamitan, dengan jurus ampuhnya Ridwan langsung menyuguhkan secangkir kopi hitam, tidak lain tujuannya adalah untuk menunda niatan saya untuk pamit, tak pake mikir dan analisa langsung saja saya sruput racikan kopi bang Bebek yang katanya adalah paduan antara kopi Jonggol dan Kopi Gayo “Gila Bek… Ni kopi rasanya kuat banget, trus ada seger-seger agak asemnya juga…” namun kali ini jurus andalan Bang Bebek ga mempan, dan akhirnya saya pun pamit, dengan saling berjabat tangan, “Bahagia terus brader… Semoga kita diselamatkan…” komen bang Bebek di akun sosialnya. (Dhy)

Ridwan Bekopi dan Kopi Jonggol

Post navigation