Kiri dikit.. terus… ooooop awas tembok, lipet dulu spionnya” teriak navigator bukan di arena balap, tapi suasana di Jalan Jambu, Bogor, waktu papasan sama angkot di jalan menuju rumah singgah teman-teman Punk Bogor.

Perjalanan penuh cerita ke ruang diskusi berwujud sebuah rumah kontrakan mungil di sudut kota Bogor, menjorok ke dalam, gang senggol, padat rumah penduduk, namun penuh dengan senyuman tetangga di sekeliling rumah singgah.

Bang Acong bersama putrinya yang sudah berhijab

Ialah bang Acong, seorang street Punk asli Bogor yang menjadi motor dan mewujudkan hijrahnya teman-teman Punk Bogor, tiga kali bang Acong ditolak sama juragan kontrakan, ada yang alasan tidak di izinkan warga, tidak dapat restu dari keluarga dan ketakutan-ketakutan lain karena penampilan visual teman-teman bergaya dress Punk.

Alhamdulillah bang Acong yang kini anak perempuannya sudah berhijab, punya track record yang baik di lingkungan tempat tinggalnya di daerah Jalan Jambu, Cibereum, kota Bogor, pak haji juragan kontrakan tetangga pemilik kontrakan di dekat rumah Bang Acong mengizinkan salah satu rumah kontrakannya dijadikan rumah singgah Punk Bogor.

Kontrakan ini menjadi rumah singgah bagi rekan-rekan Punk Bogor yang biasa nongkrong di area Pancasan sampai daerah Empang Bogor, kontrakan inilah yang selanjutnya akan berfungsi menjadi ruang diskusi.

Ruang diskusi  bukan untuk diskusi naiknya harga minyak dunia, bukan bicara tentang Industri 4.0, bukan tentang siapa next unicorn di Indonesia, apalagi tema diskusi siapa saja yang mati di Avenger Endgame.

Gang senggol depan tumah singgah Punkcasan

Diskusi yang terjadi adalah bagaimana bertahan hidup di esok pagi, lokasi mana yang bagus untuk memetik gitar mendulang koin, hari-hari apa saja yang ramai para pengunjung makam wali yang murah hati memberikan koin demi koin ke kantong plastik atau rongga kosong gitar untuk penyambung hidup rekan Punk Bogor.

Ruang diskusi untuk sekedar makan bersama sambil tertawa, saat bicara gaya lari yang kocak waktu kabur dikejar petugas saat razia.

Kang Acong (juga) Punk asal Padalarang

Ruang diskusi untuk menyambut tamu Punk Padalarang berambut pirang, dengan wajah penuh senyuman, dan tato ramai di badan, sambutan dengan hidangan nasi bungkus seadanya.

Ruang diskusi untuk menyegarkan kembali hati dengan materi-materi Aqidah dan mempelajari kembali bagaimana membaca huruf hijaiyah dengan buku kecil berwarna hitam bertuliskan Iqro.

Ruang diskusi di mana kami berproses untuk kembali mencinta agama, karena kami yakin menjadi baik adalah proses.

Ruang diskusi dengan sebuah spanduk bertuliskan “Punkgil Aku Saudaramu” karena kami sama denganmu, manusia yang merindu syurga. (Dhy)

Rumah Singgah Punk Pancasan Bogor

Post navigation


Leave a Reply