Dua kali ke Jepang, masih selalu bingung jika masuk ke stasiun kereta, jadi selalu mengandalkan anggota tim yang bertugas sebagai translator, karena biasanya translator yang ikut adalah alumni Jepang, baik sekolah, kuliah atau pernah kuliah di Jepang, jadi sudah hafal betul lajur yang ada di stasiun. Dengan tulisan yang sangat minim berbahasa Inggris, suasana yang berbeda dengan Singapore dan Thailand, saya berani jalan-jalan malam sendiri naik MRT atau angkutan masal yang lain, bahkan kalo di Sinngapore lebih sering jalan kaki sampai tengah malam. Selain kendala bahasa, stasiun kereta di Jepang pun bertumpuk tumpuk, mulai lajur atas sampai lajur bawah tanah pun bersusun-susun.

Suasana Osaka Station
Suasana Osaka Station

“Pak ini kan banyak jalur keretanya, biar kita ga bingung, nyasar dan ga salah masuk kereta caratnya gimana ya pak ?” akhirnya saya bertanya ke pak Ary yang menjadi penunjuk jalan kami selama di Osaka, dan jawaban nya “Lihat dari tiket nya aja pak, trus biar ga nyasar kita ikutin warna garis dan warna di papan petunjuknya” dan hasilnya saya ga mudeng juga.

Tiket Kereta
Tiket Kereta

Suasanya dinamis adalah pemandangan yang khas di setiap stasiun di Jepang, tak ada yang berjalan santai, selian berjalan dengan cepat semua orang di sini berjalan dengan semangat, sesekali terlihat beberapa orang memegang gadget mereka. Ditengah kondisi ini, suasana ketertiban masih sangat terasa, tak terkesan semerawut, demikian pula di eskalator yang terkadang menjadi bottle neck, namun tak sampai menjadi antrian yang panjang, semua berjalan dan tetap bergerak.

Dinamis
Dinamis

Di tahun 2009, di awal pertama saya ke Jepang, ada pengalaman yang cukup menarik, di hari terakhir, kami mendapat undangan city tour dan diakhiri dengan jamuan makan malam, kami berangkat dari hotel sejak jam 8 pagi, waktu Dzuhur pun lewat, hal ini memang sudah biasa sesuai rencana karena selain agenda pagi adalah city tour, sehingga sulit menemukan lokasi sholat, kami memperkirakan saat Ashar kami akan mendapat waktu dan tempat sholat. Namun di luar dugaan setelah lewat waktu Ashar, bahwa menjelang matahari terbenam, kami belum menemukan lokasi yang “cocok”untuk sholat Ashar dan juga Dzuhur. Sehingga saat menunggu waktu jamuan makan malam, saya bersama salah seorang teman yang juga muslim, minta izin ke tim untuk melakukan sholat, celingak-celinguk saya dan pak Royhan mencari lokasi yang cukup “cocok” untuk Sholat. Akhirnya setelah beberapa saat, kami memutuskan untuk sholat di belakang sebuah hotel, di dekat pintu darurat, Alhamdulillah sholat berjalan dengan lancar, dan saat salam waktu sholat Ashar, keluar seorang ibu, dan ketika melihat kami sholat, ibu itu pun berlari.

Namun di tahun 2015, kali kedua ke Jepang, alhamdulillah kegiatan ibadah bisa berjalan lebih baik, mulai dari saat kunjungan ke beberapa pabrik, kami selalu disiapkan tempat sholat, dan dipersilahkan untuk sholat, lengkap dengan sajadah atau alas lain yang bersih, di ruangan yang juga disediakan terjamin rapih dan bersih. Hal ini hampir terjadi di setiap perusahaan atau pabrik yang kami kunjungi, karena sudah sangat dipahami, jika ada orang Indonesia yang berkunjung akan ada orang muslim, sehingga mereka sudah mempersiapkan tempat sholat.

Karpet merah untuk sholat Dzuhur
Karpet merah untuk sholat Dzuhur

Dan saat agenda city tour pun Alhamdulillah, kami sangat dibantu oleh Hayashi San, ketika hari menjelang sore, kami bicara ke Hayashi San bahwa kami akan sholat Dzuhur dan Ashar, dan kebetulan saat itu menuju tempat jamuan makan malam, kami berlokasi di Osaka Station, dan Hayashi San meminta kami untuk menunggu sebentar, dan ia bergegasmencari informasi lokasi prayer room di Osaka Station. Setelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya Hayashi San pun datang, dan memohon maaf agak lama, karena ia harus registrasi dulu di lantai 3 sebelum kami sholat di Musholla di lantai 1 dekat Shopping Mall Daimaru.

source : http://www.halalmedia.jp/
source : http://www.halalmedia.jp/

Kabarnya musholla di Osaka Station ini mulai di buka sejak tahun 2014 menjadi hal yang sangat membantu muslim yang berada di Osaka, kondisi Mushoola yang sangat bersih, ruang antara laki-laki dan perempuan di pisah, sudah disediakan pula tempat wudhu, arah mata angin (kiblat) dan sajadah, meskipun berukuran kecil, namun terasa sangat nyaman.

Sisi Dalam Prayer Room - Osaka Station
Sisi Dalam Prayer Room – Osaka Station

Orang-orang Jepang sangat menghargai Muslim, pernah di tahun 2009 saya sangat ingin mekan Ramen yang asli buatan Jepang, tapi Makhisima San melarang saya dan menjelaskan “Kebanyakan ramen di sini, kuahnya adalah rebusan kepala babi, sehingga muslim tidak bisa makan”, dan memang untuk makanan di Jepang direkomendasikan lebih baik memilih menu yang non kuah, dan pilih yang dibakar, karena lebih bisa terhindar dari kandungan babi. (Dhy)

Sholat di Prayer Room Osaka Station

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *