Awalnya rencana akan berangkat ba’da subuh pada tanggal 11 Desember untuk mengikuti aksi damai 112, tapi melihat respon dan hasil diskusi maka memutuskan untuk berangkat jumát malam. Hasil kordinasi dengan tim Punkajian a.k.a Punk Muslim Bekasi, bahwa akan berangkat menggunakan commuter line alias KRL dari stasiun Bekasi menuju stasiun Juanda, namun karena beberapa hal akhirnya saya berangkat bersama om Andrie dengan mobil “Misfits” miliknya, Mobil Toyota Corona Delux RT100 ini membawa saya, Jaid dan Marudin alias Steven yang merupakan sohib Punk nya bang Andri bernagkat dari stasiun bekasi sebagai titik kumpul menuju Masjid Istiqlal.

Misfits Bang Andri

Mobil bukan sembarang mobil, mulai dari tampilan luar, dalam, musik, pemilik sampai penumpangnya Punk banget, usia mobil boleh tua tapi larinya luar biasa “Kemaren ke Depok bareng Angga masih bisa lari 120 bang, kalo kata yang punya ini mobil dulunya punya Kyai” kata bang Andrie. Alhamdulillah kami tiba di Masjid Istiqlal jam 12.15, saya dan tim Punk berpisah karena bang Andri mau ngupi-ngupi sementara sudah harus mulai bertugas dengan kamera untuk mengabadikan momen bersejarah ini, meskipun mata terasa agak berat.

Jamaah yang istirahat menunggu jam sholat malam

Tiba di Masjid Istiqlal, saya langsung menuju lantai 2 melalui pintu Al-Fatah, sesuai arahan Syeikh Miki, dan ternyata Masjid Istiqlal sudah dipenuhi jamaah, dari lantai 2 terlihat lantai dasar sudah dipenuhi oleh jamaah yang sedah istirahat menunggu sholat malam, dengan berbagai posisi dan gaya tidur masing-masing. Takjub karena tengah malam jamaah sudah sangat penuh, keputusan yang tepat untuk bermalam sebelum aksi 112 esok hari, ga kebayang kalo berangkat abis subuh atau malah siang, ga bisa masuk kayanya ke dalam masjid.

Jamaah sedang tilawah

Masih di lantai 2, yang ketika itu lampu masih padam, sehingga suasanya agak gelap, namun hal ini tidak menghalangi 2 orang jamaah yang memilih untuk membaca Al-Qurán dengan bantuan cahaya lampu dari lampu utama di lantai dasar, sementara rekan-rekan yang lain sudah lelap tertidur karena telah lelah dalam perjalanan. Ini adalah sebuah pilihan antara tidur atau melanjutkan ibadah di malam hari, suasana Masjid Istiqlal sudah seperti pesantren bahkan ada beberapa celetukan dari para jamaah yang sudah mulai sulit berjalan karena padatnya jamaah “Wah udah mempet nih, susah jalan, yaa itung-itung latihan umroh ya bro“. Dan ternyata aktivitas membaca Al-Qurán tak hanya dilakukan oleh satu dua orang saja dan satu atau dua titik saja, namun ini dilakukan oleh banyak jamaah yang posisinya tersebar baik di lantai dasar maupun di lantai 2, baik di dalam ruangan utama masjid maupun di pelataran masjid.

Semangat Tilawah

Sesuai dengan kabar yang sudah berbedar, bahwa Aksi 112 ini akan dihadiri oleh saudara-saudara muslim dari seluruh Indonesia, dan ketika saya moto di lantai 2, saya bertemu dengan 2 orang yang sangat ramah sedang bersiap-siap istirahat, usai saya moto di sisi utara lantai 2, beranikan diri untuk berkenalan dengan  :

Kang Poto : “Assalamualaykum bang, Saya Adhy, abang dari mana ?

Han : “Saya Han Yabox bang, kami dari Batam

Kang Poto : “Wah jauh juga ya bang, berapa orang rombongan nya bang ?

Han : “Kami kloter ke-3 bang, satu pesawat ada 175 orang rombongan kami, dan masih ada 2 kloter yang sudah berangkat duluan kami berangkat tadi pagi tanggal 10

Kang Poto : “Mau saya kirim foto-foto yang saya ambil barusan ga bang ?” sambil memperlihatkan beberapa sample foto

Han : “Wah… Boleh-boleh bang…

dan akhirnya kami bertukar nomor whatsapp untuk berkomunikasi di kemudian hari dan untuk mengirimkan foto-foto aksi 112. Indahnya persaudaraan dalam satu aqidah, meskipun baru satu kali bertemu, namun rasa kekeluargaan dan kehangatan sudah sangat terasa dekat, seperti orang yang sudah lama saling mengenal.

Ceritanya mau wefie sama orang Batam

Ceritanya sih mau kaya orang-orang, biar ada foto kenang-kenangan gitu, eh apa daya kamera ga bersahabat dengan pemiliknya, hasilnya blurrrr. Dan kemudian memutuskan ganti lensa 50 mm karena tempat bang Hans sangat gelap, jauh dari sumber cahaya lantai dasar. Memang lebih cocok berada di belakang kamera daripada saya berada di depan kamera.

Kamsa Ginting dan Hans Yabox dari Batam

Tepat pukul 01.30 seorang bapak tua petugas Masjid Istiqlal mulai membangunkan para jamaah untuk persiapan sholat malam, “Tolong para jamaah bisa berdiri, dan kami mohon untuk mundur, batas jamaah adalah garis kain putih, ini adalah area Imam, dan mohon disisakan satu shaff untuk para tamu undangan yang mungkin akan datang nanti” seru bapak petugas mengatur para jamaah yang melewati batas antara area jamaah dengan area imam berdiri.

Petugas Masjid Istiqlal

Keunikan muslim itu meskipun jumlahnya ribuan, hanya butuh seorang bapak tua yang memegang pengeras suara untuk merapihkan, dan seluruh jamaah pun berdiri mengikuti arahan untuk merapihkan barisan, dengan arahan yang jelas, tujuan yang baik dan niat yang ikhlas, seluruh jamaah pun mengikuti arahan bapak petugas.

Proses merapihkan shaff menjelang sholat malam

Tak sampai setengah jam, shaff pun sudah rapih berada di belakang garis kain putih, dan dilanjutkan dengan susunan acara protokoler, mulai dari sambutan dan tilawah Al-Qurán sebelum pelaksanaan sholat malam. Sebuah hal yang cukup unik, selama saya mengikuti mabit di Bekasi, baru kali ini susunan acara menjelang sholat malam berjamaah sangat formil, dengan menyebutkan nama-nama yang akan memberikan sambutan, tilawah, imam lengkap dengan jabatan dan title-nya.

Tilawah AL-Quran jelang Sholat Malam

Melihat status teman di medsos nya mengeluhkan antrian panjang di toilet dan tempat wudhu, dan akhirnya saya pun meluncur ke lantai bawah sisi kanan shaff terdepan, dan faktanya di toilet dan tempat wudhu area ini sangat lengang dan bisa dengan leluasa wudhu dan buang air kecil, namun sayangnya di area ini tidak ada kamar mandi untuk tindakan lebih lanjut.

Tempat wudhu sisi barat

Tak lama saya moto suasana tempat wudhu, saya pun kembali ke lantai atas ternyata sholat malah sudah berlangsung, naik tangga satu lantai dari tempat wudhu, terlihat para jamaah yang berada di pelataran dan tidak bisa masuk ke ruangan utama masjid sudah terlihat khusyu menunaikan sholat malam berjamaah, dengan tas-tas mereka tertata dengan baik agar tak mengganggu gerakan sholat.

Jamaah Sholat Malam di Pelataran Masjid

Beberapa spot dan beberapa view yang memang sudah menjadi incaran, sudah saya rencanakan di awal, langsung saya menuju spot-spot yang sudah saya tentukan saat awal kedatangan di Masjid Istiqlal, ibarat travel blogger sudah memiliki itenary yang jelas sehingga ketika akan melakukan liputan sudah tidak panik dan kikuk lagi mendokumentasikan momen-momen penting yang tidak bisa diulang lagi, itulah salah satu alasan saya datang malam hari dan lebih awal, sehingga saya bisa melakukan mapping posisi dan mapping lokasi pemotretan serta catatan momen yang akan di abadikan, dan memang salah satu yang ada di kepala saya adalah mendokumentasikan ribuan jamaah ketika melakukan sholat malam berjamaah.

Rakaat pertama – Sudut utara

Pada rokaat pertama saya memilih berada di lantai 2, sebelah kanan imam, atau arah utara untuk mendapatkan pandangan depan seluruh jamaah sholat malam. Awalnya saya hendak mengambil dari lantai yang lebih tinggi, lantai 3 atau lantai 4, namun sayang hingga sholat malam dimulai pintu menuju lantai 3 dan 4 tidak dibuka oleh pengurus masjid, sehingga saya mengambil posisi di lantai 2 ini. Melihat view finder terkadang melihal live view karena ingin mendapatkan sudut tembak yang lebih tinggi, sembari moto hati bergetar dan terharu melihat jamaah sholat malam yang sangat banyak, khusyuk, bersaudara, persaudaraan dalam satu aqidah bersama dalam ibadah.

Rakaat ketiga – Sudut timur

Usai dua rakaat pertama, saya langsung meluncur ke sisi timur untuk mendapatkan pandangan belakang ke arah imam, untuk mendapatkan keindahan secara menyeluruh, ditambah dengan kemegahan soko guru Masjid Istiqlal dari arah timur, inilah target saya selanjutnya. Dengan penuhnya jamaah di semua sisi lantai 2 masjid, sehingga saya harus perlahan dan permisi lewat sisi-sisi jamaah yang sedang istirahat antara rokaat kedua dan sebelum memulai rakaat ketiga. Alhmdulillah dengan keramahan saudara seiman, saya bisa sampai di titik tujuan saya, tepat lurus di arah timur posisi imam, sehingga saya bisa mendapatkan foto yang sudah ada di kepala saya sebelumnya. Bersyukur, 4 orang jamaah mempersilahkan saya untuk bisa duduk dan mengabadikan momen ini di saat mereka khusyu melaksanakan sholat malam.

Berada diantara saudara-saudara sholih

Alhamdulillah selama proses pendokumentasian berjalan dengan lancar, penuh dengan suasanya persaudaraan ukhuwah Islamiyah, mengabadikan momen yang menharukan yang membuat hati ini terharu dan bergetar, begitu indahnya Aqidah ini, tak terasa ada pebedaan yang terasara hanya senyuman dan ekspresi keramahan dari saudara-saudara seiman dari penjuru negeri Indonesia. Awal berangkat dari Bekasi jam 11 malam, tiba di lokasi jam 12 malam, awalnya rasa kantuk menggelayuti kedua mata. Sesaat turun dari mobil Misfits bang Andri, melihat dinamika saudara-saudara berbaju putih memasuki masjid Istiqlal, sirna rasa kantuk di mata, mengabadikan hingga shalat witir menjelang sholat subuh, tak ada rasa kantuk di mata, segar dan bahagia, dengan hati yang bergetar mendengar takbir di sepanjang sholat berjamaah, sebuah keindahan yang akan membangkitkan rasa rindu di suatu saat nanti. Di luar latar belakang duniawi yang semua orang pun tau, saya meyakini ini adalah skenario besar dari sang Pencipta ALLOH Jalla Jalaluhu untuk memperlihatkan indahnya dan begitu mesranya ajaran dalam agama Islam ini. (Dhy)

 

Sholat Malam Menjelang Aksi Damai 112

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *