Kamis malam di sela-sela kelas corporate finance ngobrol sama teman yang ternyata senior di klub runner kantor “Mas… Aku koq ga bisa tembus-tembus lari 10 Kilo ya, pace juga lambat banget, paling pace paling banter yo 9, ngejar 8 aja ngos-ngosan“.

Kopi Corporate Finance

Sambil senyum sembari nyeruput kopi di bangku tempat coffee break beliau komentar “Kamu sepertinya belum menemukan soul kamu saat kamu lari, coba rasakan dan nikmati setiap langkah larimu, ikuti irama tubuh saat mengayunkan kaki, bebaskan pikiran dan nikmati prosesnya“.

Ba’da sholat subuh, ga pake mandi, ga pake dandan, pake sepatu biru butut kesayangan yang bikin nyaman, streching sebentar di garasi, setting aplikasi, dan go jalan dulu baru lari.

Lari lewat jalur yang sudah direncanakan, sejuk semilir dengan view langit hitam nanggung subuh jelang pagi, matahari yang mulai ngintip-ngintip tipis di langit Bekasi. Berlari sambil coba meresapi dan praktek filosofi lari dari sang senior.

Jalur Jogging Keliling Kampung

Berlari menemukan irama gerak tubuh, sambil menikmati segarnya udara subuh jelang pagi hari, dengan suasana gelap jelang cahaya fajar. Alhamdulillah di Bekasi ini udara paginya masih terasa bersih, dengan jalur jogging keliling kampung favorit saya.

Kilometer demi kilometer mulai menikmati ritme gerak tubuh mengayun kaki diimbangi ayunan tangan serta hembusan nafas. Hingga terasa nulai lelah di pikirian pada jarak tembuh kilometer ke-6. Seiring rasa lelah, terlihat pemandangan yang mengusik, ditengah indahnya pagi dan segar nya udara Bekasi.

Saat menyebrangi Sungai Cipete, yang terletak diantara jalan Kali Busa dan Makam Kramat Mundu, dari atas jembatan terlihat pemandangan yang menyedihkan dan kian menyedihkan setiap kali saya jogging lewat jalur ini sejak tahun lalu.

Jembatan Sungai Cipete

Sampah yang memenuhi sungai di arah barat, yang dari bulan ke bulan semakin panjang, dan hampir sejauh mata memandang, menyedihkan.

Lautan Sampah di Sungai Cipete – Sisi Barat

Memang saat melewati jembatan, dari arah sungai tak mengeluarkan bau yang menyengat, namun jika dipikir lagi ini justru menyedihkan karena artinya sebagian besar sampah adalah sampah plastik yang sangat lama terurai, dan parahnya karena ini adalah sungai yang mengarah ke Kali CBL lalu masu ke Sungai Cikeas dan akhirnya akan masuk ke pantai di area Babelan kemudian masuk ke Laut Jawa.

Miris di tengah ramainya kampanye penanganan limbah mikroplastik di lautan, di depan mata beratus kibik sampah plastik ada di depan mata siap bergeser menuju lautan yang akan menambah kandungan mikroplastik di Laut Jawa.

Ini merupakan efek jangka panjang, adapun secara jangka pendek tak heran jika dalam beberapa tahun terakhir Bekasi dilanda banjir mulai dari Pakis Jaya, Babelan hingga ke Kabupaten dan Kota Bekasi.

Miris, seolah tak ada penanganan dari warga maupun pemerintah, mungkin warga sekitar pun sudah menyerah jika melihat sampah sebanyak itu di Sungai Cipete, sepertinya membutuhkan alat berat dan tak cukup waktu 1 atau 2 hari untuk mengatasi sampah ini. Dan mungkin warga pun bingung harus melapor ke siapa sehingga sampah terus bertambah dan kian bertambah.

Warung Kopi Sungai Cipete

Semoga Kali Cipete bisa segera bersih dan bisa jadi jogging track yang indah, bisa juga jadi jalur sepeda, atau syukur-syukur bisa digunakan untuk olahraga atau wisata sungai seperti di negara-negara maju. Karena tak jauh dari jembatan Sungai Cipete saat ini sudah ada warung kecil yang menyiapkan kopi dan bakwan bagi para pelari atau para goweser yang kehabisan nafas. dan butuh asupan bakwan. (Dhy)

Sungai Cipete Bekasi : Jalur Jogging yang Ternoda

Post navigation


Leave a Reply