Era digital terus menggila, kini pengusaha tak butuh kios sebagai ruang usaha, pun tak butuh tenaga marketing yang akan menambah cost pruduksi, semua bisa dilakukan dengan media yang ajaib, yaitu online shop. Semua bisa menjadi pembeli dan semua bisa menjadi penjual, sebagai contoh di Bekasi Timur ada sebuah grup Whatsapp yang berisi ibu-ibu yang suka berdagang produk yang dibuatnya sendiri, meskipun di dalam grup ada beberapa bapak-bapak dan beberapa menjadi reseller barang-barang dari supplier besar.

Beberapa bulan lalu, ketika mengikuti sebuah training marketing, salah seorang pembicara menjelaskan bahwa online shoping saat ini menjadi dinamika ekonomi penyelamat bagi Indonesia disaat ekonomi makro melemah. Ibu-ibu rumah tangga bikin kue, lalu dijual di internet terlihat sebuah perdagangan dalam skala kecil, namun siapa sangka dari jutaan ibu-ibu macam ini, di hari belanja online nasional (harbolnas) total transaksi di hari tersebut mencapai 2.1 Triliun, angka yang fantastis.

Perkembangan yang luar biasa dan sangat cepat terjadi di Indonesia, dinamika ini pun mampu diimbangi oleh para ibu-ibu yang terus bersemangat berbenah diri, yang awalnya hanya berdagang secara individu melalui pesan pribadi via WA, BBM atau Medsos, kini mulai dalam bentuk komunitas dan membentuk portal e-commerce.

Untuk bisa memasarkan produk nya dengan baik, foto produk menjadi andalah untama bagi para penjual online, namun disayangkan banyak penjual yang menampilkan foto apa adanya, bahkan bisa dikatakan tidak layak tampil, sering sebuah produk yang memiliki kualitas baik, namun hanya diletakan di atas lantai, dan di foto di ruang gelap sehingga hasilnya kotak-kotak lantai terlihat dan gambar nampak tidak fokus karena shaking.

IMG_20160321_104139

Foto di atas adalah contoh simple dua buah produk yang saya foto menggunakan kamera ponsel tanpa editing dan tanpa cropping, hanya sebagai gambaran hasil akhir sesi foto produk menggunakan ponsel. Pada gambar di atas terlihat jelas brand dari dua produk, dan saya sengaja memotong/memotek kue malkist agar nampak isi coklatnya. Foto ini saya ambil sekitar jam 10.30 siang dengan sumber cahaya matahari yang masuk dari jendela.

BTS_Foto Malkist

Foto di atas adalah ilustrasi sederhana bagaimana sesi foto saya lakukan, terlihat posisi produk di atas meja yang berwarna abu-abu dan sekitar produk saya bersihkan sehingga tidak akan ada barang lain yang masuk frame dan mengganggu. Kue yang sudah saya potong saya letakan tepat menghadap jendela sehingga isi coklat bisa terpapar sinah matahari dengan baik dan ini akan mengekspose kontur isi coklat kue malkist. Sudut tembak dan posisi fotografer menyesuaikan area mana yang akan kita ekspose, sisi yang di ekspose dari foto produk adalah area yang dianggap paling menarik atau paling menggoda selera jika itu adalah makanan.

Untuk pencahayaan alami saya memanfaatkan cahaya matahari yang asuk dari jendela, waktu yang disarankan untuk melakukan sesi foto ini sekitar pukul 07.00 sampai pukul 10.30 pagi atau pukul 15.30 sampai pukul 17.00 sore, karena cahaya pada waktu tersebut sudah dalam intensitas yang cukup serta lembut dan hangat.

wp-1449411232966Foto terakhir sebagai contoh adalah, foto yang saya ambil menggunakan kamera DSLR, semoga bisa merasakan perbedaan hasil foto yang berbeda dengan dua alat yang berbeda. Jangan pernah mengeluhkan kamera apa yang digunakan, tapi berusaha memahami apa yang mau kita buat, bagaimana mewujudkan dengan alat yang kita punya. (dhy)

Tips : Foto Produk dengan Kamera Ponsel dan Cahaya Alami

Post navigation


One thought on “Tips : Foto Produk dengan Kamera Ponsel dan Cahaya Alami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *