Saat kita pergi untuk membeli susu bayi ke pasar swalayan maupun toko susu independen yang kini marak di pelosok jalan Kampung dan perumahan, kita akan dihadapkan pada puluhan pilihan merk susu dan ratusan varian dari puluhan merk tersebut. Mulai dari susu untuk usia bayi baru lahir, usia 1 tahun, usia 2 tahun, usia 3 tahun, bahkan kini ada susu khusus masa perkembangan anak-anak ABG yang menjanjikan tumbuh ke atas bukan ke samping, pilihan yang membuat kepala dan dompet pening tujuh keliling.

Harga pun menyesuaikan feature yang dijanjikan di setiap kalengnya, makin panik orang tua terhadap kondisi anak nya, besar kemungkinan akan memilih susu dengan harga yang mahal dengan feature yang lengkap. Contoh kasus, ada seorang anak yang sudah masuk masa konsumsi MPASI (Makanan Pendamping ASI) namun anak ini susah makan, disuapin ga mau, ibu bayi ini adalah seorang wanita karir sukses dengan penghasilan bulanan yang cukup tinggi, pada contoh kasus ini hampir dapat dipastikan ibu akan memilih produk susu yang megusung slogan “Susu pengganti makan” dengan harga jual lebih dari 1/4 juta untuk ukuran kaleng 850 gram, angka yang fantastis dan bisa dibayangkan berapa jumlah pengeluaran ibu untuk bayinya dalam jangka waktu sebulan.

Strategi marketing yang luar biasa, yang bisa menggunakan peluang pasar para ibu yang gelisah karena anaknya mengalami kesulitan makan makanan padat, para ibu yang khawatir anaknya terganggu pertumbuhannya karena tidak cukup nutrisi dari makanan” ucap seorang trainer di sebuah training yang bertema Inovasi Marketing.

Lalu sang trainer kembali bertanya “siapa yang bisa menjamin kalo susu bubuk yang harga nya 1/4 juta itu tidak sama kandungan gizi nya dengan susu yang biasa kita minum 20 tahun yang lalu yang saat ini harganya tidak sampai 100 ribu ?” kami pun sejenak diam dan akhirnya senyam-senyum setelah trainer kembali bertanya “Kira-kira ibu dari anak yang tadi, yang saat ini sukses menjadi wanita karir yang pasti ibu itu cerdas dan sehat, apakah dulu ia minum susu yang harganya 1/4 juta rupiah dengan feature yang melimpah ?“.

Makin menyadarkan kami peserta training bahwa ilmu marketing itu luar biasa, menggunakan peluang pasar dan akhirnya bisa memberikan range harga yang sangat jauh dengan kompetitornya dengan cost production per kaleng susu yang tak terpaut jauh. Di akhir training saya teringat pada sebuah slogan ketika masa-masa Sekolah Dasar, mungkin teman-teman seangkatan pun juga pasti ingat slogan “Empat Sehat Lima Sempurna“. (Dhy)

Tips Memilih Susu Bayi

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *